Pernyataan Klub

Financial Fair Play

Financial Fair Play (FFP) merupakan bagian dari sejumlah kriteria yang harus dipenuhi klub agar mendapat lisensi untuk ambil bagian di kompetisi antar klub EUFA, terutama Liga Champions dan Liga Europa.

Regulasi FFP disetujui pada September 2009 dengan tujuan utama UEFA sebagai berikut:

• menerapkan keuangan yang lebih disiplin dan rasional pada klub sepakbola

• mengurangi tekanan terhadap gaji dan biaya transfer serta membatasi tingkat inflasi

• mendorong klub untuk bersaing menggunakan pemasukan mereka

• mendorong investasi jangka panjang di sektor pemain muda dan infrastruktur

• melindungi kelangsungan hidup jangka panjang klub sepakbola Eropa

• memastikan klub menyelesaikan kewajiban mereka tepat waktu

Yang menjadi sasaran utama regulasi FFP ini adalah kewajiban bagi setiap klub untuk mencapai titik impas antara pengeluaran dan penghasilan dari kegiatan yang berhubungan dengan sepakbola dalam kurun waktu tertentu

Yang termasuk dalam penghasilan relevan adalah pendapatan dari tiket masuk, hak siar, sponsor dan iklan plus profit yang diperoleh dari transfer pemain.

Yang termasuk dalam pengeluaran relevan adalah biaya transfer untuk mendatangkan pemain, gaji dan biaya santunan karyawan serta pengeluaran operasional lainnya.

Yang tidak termasuk dalam pengeluaran adalah biaya aktivitas pengembangan pemain muda, kegiatan pengembangan komunitas dan pengembangan infrastruktur seperti stadion atau tempat latihan. Klub diperolehkan mengeluarkan dana tak terbatas untuk kegiatan-kegiatan tersebut tanpa perlu tunduk pada FFP.

 

**********

 

Regulasi FFP yang dimulai pada musim panas 2011 memiliki masa periode implementasi di mana kriteria yang disampaikan harus dipenuh dalam jangka waktu periode implementasi tersebut.

Musim pertama di mana sebuah klub gagal diberi lisensi untuk ambil bagian di kompetisi Eropa sehubungan dengan FFP adalah musim 2013/14.

Untuk musim 2013/14, UEFA akan menilai keuangan klub selama dua musim sebelumnya (ini disebut sebagai periode monitoring). Keuangan sebuah klub hanya diperbolehkan berada di bawah titik impas untuk musim 2011/12 dan 2012/13 dengan total sebesar 45 juta euro.

Untuk musim 2014/15, jumlah yang sama, 45 juta euro di bawah titik impas akan mendapat lisensi namun kali ini periode monitoring dilakukan dengan menghitung tiga musim ke belakang - dari musim 2011/12, 2012/13 dan 2013/14.

Untuk musim 2015/16, jumlah defisit tersebut hanya diperbolehkan sebesar 30 juta euro. Periode monitoring kembali dilakukan selama tiga musim ke belakang, dalam hal ini musim 2012/13, 2013/14 dan 2014/15.

Angka defisit sebesar 30 juta euro tersebut tetap dipertahankan hingga 2018. Besaran deviasi untuk musim 2018/19 belum ditetapkan namun akan lebih kecil dari 30 juta euro. Musim ini akan jadi musim pertama di mana klub harus mencapai titik impas pada neraca mereka, memenuhi FFP, tanpa ada kelonggaran lagi.

Jika sebuah klub mengalami surplus di atas titik impas selama periode monitoring sebelum periode yang dipertimbangkan, maka surplus tersebut dapat dimasukkan ke dalam perhitungan. Profit yang dihasilkan di masa lalu dapat membantu pemenuhan FFP.

Masih ada ketentuan lebih jauh mengenai deviasi sebesar 45 atau 30 juta euro tersebut. Agar jumlah tersebut dapat diterima, maka jumlah tersebut harus berasal dari investasi ekuitas selama periode monitoring yang relevan. Sebagai contoh, untuk musim 2013/14, seorang pemili klub dapat menginvestasikan hingga 45 juta euro selama dua musim sebelumnya untuk mendapatkan lebih banyak saham klub. Namun, jika investasi itu hanya berasal dari pinjaman ke klub, maka nilai deviasi hanya diperbolehkan sebesar 5 juta euro dari titik impas selama periode monitoring. Nilai tersebut akan tetap sebesar 5 juta euro dan bukannya 45 atau 30 juta euro untuk periode monitoring selanjutnya jika investasi masih tetap berasal dari pinjaman semata.

 

*********

 

Pada tahap awal periode implementasi, klub yang melebihi batas deviasi titik impas yang diterima diberikan provisi jika klub tersebut memiliki tren positif pada titik impas hasil keuangan tahunannya, dan jika defisit tersebut hanya disebabkan oleh kontrak pemain yang diselesaikan sebelum 1 Juni 2010.

Provisi tersebut hanya diberikan selama dua periode monitoring pertama, yaitu untuk mendapatkan lisensi untuk musim 2013/14 dan 2014/15.

 

**********

 

Peraturan ini dibuat untuk menghindari jumlah pendapatan klub yang meningkat secara artifisial lewat transaksi dalam jumlah besar dari pihak yang bersangkutan.

Sebagai contoh, UEFA tidak akan mengizinkan jumlah yang melebihi "nilai wajar" untuk kesepakatan sponsor demi memenuhi perhitungan impas FFP jika kesepatakan tersebut terjadi pada perusahaan yang masih berhubungan dengan klub.

Contoh lainnya dari nilai estimasi wajar yang berlaku adalah penjualan tiket hotel perusahaan, dan/atau penggunaan ruang eksekutif, baik oleh klub maupun pihak terkait.

 

**********

 

Persyaratan lain dari FFP adalah bahwa sebuah klub tidak boleh melebihi batas jumlah hutang jatuh tempo pada klub sepakbola, karyawan atau otoritas pajak.

Dibentuk Panel Kontrol Finansial Klub untuk memonitor dan memastikan klub mengikuti persyaratan FFP.

UEFA telah mengindisikasikan akan mempertimbangkan pemberian sanksi selain menolak memberikan lisensi untuk bermain di kompetisi Eropa kepada klub yang gagal mematuhi FFP, namun demikian, penolakan pemberian lisensi tersebut adalah sebuah kemungkinan
 

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA