Wawancara

Pembentukan Diri: Rob Green

Rob Green, kiper sarat pengalaman ini, jadi pemain teranyar yang mengenang perkenalannya dengan sepak bola saat masih kecil dulu serta perjalanannya hingga menjadi pesepak bola profesional…

Aku pertama kali bermain di Woking Boys Club. Kala itu aku masih berusia enam atau tujuh tahun. Tim itu dijalankan oleh ayahku dan rekannya. Kami biasanya bertanding pada Minggu pagi di West Byfleet Rec, cukup dekat dengan Cobham. Kami punya tim yang bagus, banyak anak-anak berbakat, dan kami kerap menjadi juara liga.

Kami terus bermain bersama hingga usia 12 tahun. Setelah itu aku meninggalkan klub untuk bermain di Norwich dan beberapa anak lainnya bermain untuk West Ham. Aku sangat suka itu. Jadi bagian dari tim yang kuat saat masih kecil adalah sesuatu yang hebat. Aku bermain sebagai kiper dan orang-orang berkata bahwa aku akan jadi lebih baik lagi jika bermain untuk tim yang lebih buruk, tetapi aku lebih suka bermain untuk tim kuat yang memainkan laga-laga hebat. Ini punya arti tersendiri daripada bermain di laga di mana aku kalah 10-0.

Bermain di bawah arahan ayah, aku harus tampil dengan baik! Ayahku dan rekannya menjalankan klub dengan baik. Prinsip kerjanya adalah kami akan bermain sepak bola dengan baik, bukan sekadar mengumpulkan banyak anak lalu menurunkan mereka di lapangan. Mereka senang membentuk tim untuk bermain dengan cara seperti yang mereka inginkan.

Aku masih berhubungan dengan mereka sampai sekarang; aku masih berusaha mengalahkan mereka setelah 33 tahun, tetapi aku tak bisa menyingkirkan mereka! Kami sudah jadi sahabat abadi.

Pada saat itu, seingatku, yang paling sering kulatih sebagai kiper adalah mencoba menangkap bola dari tendangan gawang di udara! Kami biasa berlatih di lapangan rugby kerena hanya lapangan itulah yang dilengkapi dengan lampu sorot dan aku biasanya tinggal di sana untuk bermain menendang bola ke gawang rugby. Itu adalah satu-satunya saat di mana aku bisa melatih sepakanku karena tidak ada pemain lain yang mau masuk ke taman dan melatih kemampuan mereka dalam menjaga gawang. Sekarang sudah berubah tapi setiap orang harus menunggu di pinggir kotak penalti, menunggu mendapat tendangan gawang yang buruk.

Aku berumur sekitar 10 tahun ketika mulai mewakiliki kelompok usia dan wilayah sebagai pemain kanak-kanak. Aku sadar bahwa aku berkompetisi melawan pemain-pemain terbaik yang usianya di atasku. Ketika ayahku ditanya kapan ia tahu aku ingin menjadi seorang pesepak bola profesional, ia menjawab ketika aku berusia delapan tahun. Ia bisa melihatnya.

Pada suatu akhir pekan Paskah, aku pergi bersama Woking Boys Club untuk bermain dalam sebuah turnamen di Norfolk bernama Canary Cup. Kami berhasil mengalahkan Rangers lalu Sheffield Wednesday di final dengan status sebagai klub anak-anak yang berlatih tiap hari Minggu. Norwich memanfaatkan turnamen itu sebagai bagian dari jaringan pemantauan bakat mereka, memilih anak-anak dan memasukkan mereka ke masa percobaan secara bersama-sama. Sejak saat itu mereka berkata bahwa mereka menginginkanku dan bisa melihatku menjadi kiper masa depan Norwich. Itu menyadarkanku bahwa aku punya kemampuan yang cukup bagus.

Aku sangat bersemangat tetapi waktu itu tidaklah mudah. Aku harus naik kereta ke London dan bertemu dengan anak-anak dari West Country dan dari London selatan di Waterloo, lalu menyeberang ke Livepool Street kemudian naik kereta lagi ke Norwich setiap hari Sabtu. Lalu pada hari Minggu, kami akan bermain di tempat lain lalu pulang dengan naik kereta lagi. Itu perjalanan yang sangat berat untuk anak 12 tahun. Kami harus mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya di kereta. Kami kehilangan waktu di akhir pekan dan sudah menyadari pengorbanan kami sejak usia dini.

Norwich punya jaringan pemandu bakat yang sangat luas. Mereka punya pemain-pemain seperti Craig Bellamy, Darren Eadie, dan Jamie Cureton yang didatangkan dari South Wales hingga West Country. Lalu di London, mereka punya pemain-pemain seperti Ade Akinbiy dan aku. Sekarang lebih global, tetapi pada waktu itu, 25 tahun yang lalu, adalah mencari terobosan. Karena mereka tidak punya banyak pemain di Norfolk, ini sangatlah berbeda untuk mereka dan mereka menyadari bahwa saat itu mereka harus kerja keras.

Ketika aku berusia 14 tahun, aku dipilih dari sekolah negeri lalu aku pergi ke Lilleshall. Di sana, dipilih 16 pemain cilik terbaik dari seluruh negeri. Tetapi aku gagal melewati pemeriksaan medis karena patah tulang punggung dan stress fracture. Aku harus absen selama dua tahun karena itu dan semuanya dibiayai oleh Norwich.

Aku tak terlalu memikirkan cedera itu. Fisikku berkembang pesat selama absen. Ketika kembali, Norwich ragu bagaimana respon fisikku jadi mereka memintaku untuk tetap tinggal di sekolah. Aku mengikuti latihan sebisa mungkin, jadi tiga hari di sekolah dan tiga hari di Norwich.

Aku langsung kesulitan menyelesaikan tugas-tugas sekolahku. Ayahku datang dan berkata bahwa itu terlalu berlebihan, dan bertanya apa yang bisa kami lakukan. Norwich berkata mereka akan memberiku kontrak profesional setelah aku berusia 17 tahun. Kami pergi ke seklah dan mereka merespons dengan brilian dan berkata bahwa mereka ada di sana untuk memberikan masa depan dan aku sudah mendapatkan masa depanku.

Waktu itu Norwich mengalami krisial finansial berat. Skuat berada pada jumlah minimumnya. Dalam waktu enam bulan sejak pulih dari cedera, aku bepergian dengan tim utama dan bermain untuk tim cadangan dan tim yunior.

Sangat melelahkan. Berdiri di belakang bus sambil memasak untuk pemain-pemain tim utama, lalu pergi dan bermain keesokan harinya bersama tim cadangan, lalu kembali ke sekolah – semuanya kulakukan. Aku bahkan tak bisa mengendarai motor sehingga aku harus bersepeda dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan semua itu!

Aku semakin sering mendapat kesempatan di tim utama, dan dipuncaki dengan debutku melawan Ipswich di Old Farm Derby pada April 1999.

photo of Rob Green Rob Green

Andy Marshall dikartu merah sepekan sebelumnya dan tidak ada kiper lain. Aku ingat ketika berlatih sehari sebelumnya, kami semua berlatih membentuk lingkaran besar dan aku membuat kesalahan. Salah seorang rekan setimku mendatangiku lalu berkata, “Kalau besok kau membuat kesalahan, akan kubunuh kau’. Itu terjadi kurang dari 24 jam sebelum debutku! Itu menunjukkan betapa sepak bola sudah berubah.

Itu mungkin salah satu hasil imbang 0-0 paling membosankan yang terjadi dalam sebuah laga derbi. Turun hujan. Tak ada yang terjadi. Kurasa aku mematahkan hidung kaptenku ketika aku maju untuk menyapu bola. Tapi, selain itu tidak ada yang istimewa.

Tapi, bisakah kita menghadapi situasi itu? Itu adalah ujian. Tiketnya habis dan pada waktu itu sepak bola bukanlah yang paling popular. Laga Norwich ditonton oleh sekitar 12 atau 13 ribu orang per pekannya, lalu tiba-tiba menjadi 20 ribuan. Ada perbedaan yang sangat besar.

Aku ingat ketika sangat lelah secara mental. Aku baru saja tiba di rumah dan ingin tidur. Orang tuanku mendapat telepon dari orang-orang yang memberikan ucapan selamat dan mereka harus berkata “Rob sedang tidur kelelahan”. Itu jadi pada hari Minggu sekitar pukul lima sore! Tapi senang sekali bisa bermain di laga itu.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA