Blog

Spurs Biru

Rivalitas antara Chelsea dan Tottenham tidak menjadi hambatan bagi pemain-pemain berikut untuk berkarier di Stamford Bridge dan White Hart Lane.

Dua klub terbesar di London ini hanya berjarak 15 mil dan laga antar keduanya selalu jadi pertandingan yang harus ditonton di sepak bola Inggris dan selama bertahun-tahun telah menyuguhkan pertarungan yang seru.

Antara Chelsea dan Tottenham jelas terjadi persaingan seru, tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi sejumlah nama besar ini untuk bermain di SW6 dan N17, bahkan di antaranya menyandang status legenda bagi salah satu atau kedua klub.

Pada penampilan kedua kami di final FA Cup, pada 1967, the Blues ditangani oleh Tommy Docherty – seorang mantan pemain klub rival lainnya, Arsenal – dan berhadapan dengan Spurs. Jarang-jarang the Lilywhites tampil lebih baik ketimbang kami di laga-laga besar, dan ini terbantu dengan dua orang yang pernah menjadi pemain favorit di Stamford Bridge.

Jimmy Greaves jadi pemain termuda yang mencapai 100 gol di divisi utama Inggris setelah lulus dari sistem pembinaan pemain di Chelsea. Sementara, Terry Venables menyusul beberapa tahun kemudian, menjadi kapten dari formasi Diamond Doc dan menjadi salah satu pesepakbola dengan otak paling cemerlang di Inggris, yang kemudian menjadikannya seorang manajer yang bagus.

Meski mengecewakan penggemar the Blues, mungkin Docherty sendiri, kedua pemain tersebut mengeyam kesuksesan di London utara dan berhasil membantu Spurs mengalahkan kami di Wembley Stadium dan memperpanjang penantian kami untuk menjadi kampiun FA Cup.

Gustavo Poyet jadi bagian dari tim Chelsea yang menjuarai piala tersebut beberapa tahun kemudian, finis sebagai top skor kompetisi tersebut pada tahun 2000, ketika kami mengangkat trofi di final terakhir yang diselenggarakan di stadion Wembley lama. Pria Uruguay itu adalah pemain bernomor punggung 8 yang produktif sebelum kedatangan Frank Lampard. Dia rata-rata mencetak satu gol setiap tiga laga, yang menjadikannya sebagai sosok yang populer di Stamford Bridge.

Namun, ketika karier Gus di London barat berakhir, ia memutuskan untuk bergabung dengan Spurs dan gagal menambak koleksi trofinya meski tampil di semifinal League Cup – menang atas the Blues. Ia bahkan kembali ke White Hart Lane beberapa tahun kemudian sebagai asisten manajer Juande Ramos.

Gordon Durie adalah pemain produktif lainnya dari Chelsea di tahun 80an. Ia sukses membantu klub meraih promosi dari Divisi Dua pada 1988/89, meski kemudian mencoreng reputasinya ketika mengumumkan bahwa ia homesick dan ingin lebih dekat dengan keluarganya. Dalam pembelaannya, Tottenham lebih dekat ke Skotlandia daripada Chelsea, tetapi tetap saja…

Salah satu sorotan dari musim yang berakhir dengan promosi di bawah besutan Bobby Campbell itu adalah Graham Roberts, seorang penyerang tengah bertenaga yang menjadi kapten dan sukses mengeksekusi penalti demi penalti dalam proses memecahkan rekor poin ketika menjadi juara Divisi Dua – 99 poin. Fakta bahwa ia menjadi legenda Spurs, dengan menjuarai Piala UEFA, tidaklah sebesar ketika membantu kami promosi.

Ketika Roberts meninggalkan Stamford Bridge dua tahun kemudian, ia memberi kesempatan bagi seorang penyerang tengah muda, Jason Cundy untuk mengisi tempatnya di tim utama. Bagi Anda yang melihat Cundy di Chelsea TV tahu bahwa dia selalu “berdarah biru”, setelah dibawa ke teras Stamford Bridge oleh ayahnya yang seorang penggila Chelsea. Jadi, cukup mengejutkan ketika mengetahui bahwa ia pernah meninggalkan klub untuk bergabung dengan Tottenham, meski dalam pembelaannya, ia pun tidak mengerti atas keputusannya itu.

Anggota skuat juara Full Members Cup 1986 dan 1990 kami terdiri dari pemain-pemain yang punya karier berlawanan bagi kedua klub. Pada kesuksesan sebelumnya, Colin Lee, yang juga membantu kami meraih promosi di musim 1983/84, mencetak dua gol dalam laga seru kontra Manchester City di final yang berakhir dengan kemenangan 5-4. Micky Hazard, yang pernah meraih trofi bersama Spurs, duduk di bangku cadangan. Setelah itu, pada 1990, Clive Wilson diturunkan sebagai pemain pengganti kala kami menaklukkan Middlesbrough, dan si bek kiri itu nantinya membela Tottenham.

Dua legenda Spurs pernah menangani Chelsea, meski berbeda nasib. Danny Blanchflower meraih Double semasa bermain di N17, tetapi ketika menjadi pelatih di Stamford Bridge, ia bekerja dengan dana terbatas dan masa depan yang tidak jelas dan tentunya tidak banyak yang bisa dituntut darinya. Berbeda dengan Glenn Hoddle, yang menyandang status sebagai legenda Spurs, berhasil membawa kami ke final FA Cup pertama dalam 24 tahun di musim perdananya sebagai pemain-manajer.

Tiga dari skuat juara Premier League musim 2004/05 pindah ke White Hart Lane. Kiper populer, Carlo Cudicini adalah salah satu kiper terbaik di Inggris semasa membela Chelsea, dan kini bekerja di klub sebagai asisten Maurizio Sarri. Ia mengakhiri karier panjangnya di SW6 dengan menjajal peruntungan di Spurs. Scott Parker juga pindah ke klub yang sama usai bermain sebentar di West Ham United, yang sepertinya tidak membahayakan popularitasnya.

Tetapi, William Gallas, sosok kunci bagi pertahanan kuat yang menciptakan rekor kebobolan terminim di divisi utama liga Inggris, punya rekam jejak transfer yang unik, dari Chelsea ke Arsenal lalu Tottenham. Menurut kami, momen terbaikya adalah ketika mencetak gol kemenangan bagi the Blues saat menaklukkan Tottenham pada 2006.

Seperti apa yang dikatakan oleh Greaves, “Tak bisa diprediksi.”

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA