Blog

Cole Si Emas

Hari ini Joe Cole berusia 37 tahun dan oleh karena itu mari kita dengar siapa pahlawan masa kecilnya dan sorotan momen terbaiknya bersama Chelsea.

Sebagian penggemar the Blues amat menyukai Cole selama enam tahun kariernya di Stamford Bridge, panggungnya semasa muda dulu.

Seperti baru kemarin saja ia diakui sebagai salah satu bakat sepak bola terbaik yang dipunyai Inggris; kini ia telah mendekati usia 40an, dan puncak permainannya tak diragukan lagi, muncul ketika bermain di London barat.

Kembali di masa jayanya dulu, Joe menyebut dua pemain hebat lainnya dari London, kepada Paul Merson - penggemar the Blues lainnya - dalam sebuah acara di Sky Sports yang membahas kariernya.

"Aku senang menonton (permainan) Gazza dan Chris Waddle," akunya kepada Merse. "Fakta bahwa kedua pemain itu adalah pemain Tottenham cukup menjadi pukulan bagiku, tetapi aku ingat Piala Dunia 1990. Ibu dan ayahku bukan penggemar sepak bola, mereka tidak suka sepak bola, jadi aku memaksa mereka agar bisa bermain sepak bola dan bahkan mereka pun tidak tertarik dengan Piala Dunia."

“Aku ingat menonton Gazza di semifinal dan berpikir, “Aku harus bermain untuk Inggris.” Lalu aku mengikuti Chelsea, jadi Dennis Wise adalah pahlawan besarku.”

Terlepas dari koneksinya dengan West Ham, karena telah bermain untuk klub tersebut sejak kecil, dan lulus dari akademi hingga menjadi kapten di usia 21 tahun, hatinya selalu biru.

Wisey adalah idolanya dan ingat berkesempatan untuk menghadiri final FA Cup 1994 atas permintaan Sir Alex Ferguson, yang berusaha meyakinkannya untuk merekrutnya ke Manchester United.

Sejak memutuskan pindah, ayah Cole menyarankan agar menolak perjalanan ke Wembley itu. Sebuah pergerakan yang bijak; Chelsea kalah 4-0 di rumah sepak bola Inggris.

Sembilan tahun kemudian, menyusul terdegradasinya West Ham dari Premier League, tim Setan Merah kembali punya kesempatan untuk talenta mentah yang disukai oleh pahlawannya, Gazza. Namun demikian, ia tidak mengambil keputusan setelah mendengar ketertarikan salah satu klub…

“Ketika (penawaran) Chelsea masuk, dengan koneksiku semasa kecil, ke situlah tempat yang ingin kutuju," katanya. “Ketika Anda seorang anak London, Anda tahu tentang rivalitas, dan aku tahu bahwa (kepindahanku) tidak akan berjalan dengan mudah, tetapi saat itu, itu adalah pilihan terbaik.”

“Roman (Abramovich) baru saja masuk, tinggal di London sangatlah penting buatku, dan para penggemar langsung mengambil hatiku. Claudio Ranieri juga sangat menyenangkan. Aku ingat, ketika bergabung, aku masuk ke sana dengan berpikir, “Lupakan Veron, Mutu, Geremi, Gronkjaer – aku akan bermain.” Tetapi mungkin mereka berpikir, “Dia masih 21 tahun, beri dia beberapa tahun lagi…”

“Hal pertama yang kutanyakan ke Claudio adalah aku akan bermain di mana dan dia menjawab, ‘Kau adalah pemain kunciku.’ Ya, tapi aku main di mana? ‘Kaulah pemain kunciku.’ Cukup adil – aku bergabung. Di laga pertama, di Eropa, aku duduk di bangku cadangan. Ya, di situlah tempat pemain kunci duduk! Aku masuk, membuat gol, dan setelah itu ia menepuk bahuku dan berkata, ‘Sudah kubilang – kau adalah pemain kunciku.’ Menyenangkan sekali!”

Selain bermain untuk klub yang ia gemari waktu kecil, ia juga berambisi untuk memainkan peran penting.

“Di kepalaku, aku tidak ingin meninggalkan sepak bola tanpa memenangi sesuatu atau tidak memiliki momen besar,” katanya. “Hingga saat itu, aku bermain dengan baik tapi belum pernah memenangi sesuatu.”

“Bagiku, sepak bola bukanlah soal uang, tidak penting. Seseorang pernah berkata seperti ini, “Setelah kau menjadi pemain yang bagus, kau akan menghasilkan uang.” Itulah yang dilakukan oleh pemain-pemain top sesungguhnya karena mereka ingin memenangi sesuatu.”

“Kurasa musim 2005/06 adalah musim terbaikku, meski musim 2004/05 juga baik. Tetapi, tahun 2006 kupuncaki dengan sebuah gol yang memberikan gelar juara kepada klub yang kudukung ketika kecil. Hari itu mungkin menjadi sorotan dalam karierku. Keluargaku datang, gol itu sangat istimewa, dan ada pesta besar di sana. Itu malam yang sangat seru!”

Cole sudah memenangi setiap penghargaan domestik selama bermain untuk Chelsea, namun tidak dengan gelar Eropa. Di musim ketika ia terpilih menjadi Player of the Year, pada 2007/08, kami berhasil mencapai final Liga Champions, melawan Manchester United.

“Final FA Cup adalah laga yang sangat besar ketika aku masih kecil, dan aku masih berusia 14 atau 15 tahun ketika laga Eropa terkenal.”

“Menjuarai FA Cup sangat luar biasa untukku, tetapi final Liga Champions, karena melawan United, adalah hari yang aneh. Anda bermain melawan rekan setim Anda, jadi Anda tidak ingin kalah. Itu bukan final yang fantastis, permainannya tidak mengalir, dan kredit untuk pasukan United. Mungkin itu adalah tim Manchester United terbaik yang pernah kulihat.”

“Kami kalah dari tim yang sangat bagus, tetapi selama 120 menit, aku merasa kami tampil lebih baik. Aku ditarik keluar di akhir pertandingan karena Anelka lebih andal dalam mengeksekusi penalty. Aku tak pernah melihat JT gagal menendang penalti, dia punya teknik yang sangat bagus. Dewi Fortuna tidak bersama kami malam itu.”

“Sangat mengagetkan kami gagal menjuarai Liga Champions dengan tim itu. Kami seharusnya bisa menjuarainya dua kali: tahun pertama Mourinho, ketika kami kalah dari gol Garcia, gol yang sampai sekarang pun aku masih belum mengetahuinya sebagai gol, tetapi mungkin tidak. Aku ingat mencetak gol melawan Liverpool dua tahun kemudian di leg pertama semifinal, menang 1-0 atas tim tamu Eropa yang tidak sebaik kami. Melawan mereka di Anfield. Mereka luar biasa dan mengalahkan kami lewat adu penalti. Kami seharusnya bisa menjadi juara satu atau dua kali, tetapi kenyataannya tidak seperti itu.”

Dua tahun kemudian – dua tahun sebelum kami menjuarai Liga Champions – Cole pindah ke klub masa kecilnya, Liverpool. Jika Anda belum mencintainya, maka nukilan terakhir ini akan membuat dirinya terpateri di hati setiap penggemar Chelsea.

“Aku punya kesempatan untuk pindah ke Tottenham, dengan Harry Redknapp, tetapi aku tidak bisa melakukannya mengingat penggemar Chelsea dan West Ham. Hubunganku dengan suporter kedua tim sangat baik. Liverpool adalah klub yang benar di masa yang salah dan tidak berjalan dengan baik buatku.”

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA