Blog

Jangan Pernah Kembali Lagi

Claudio Ranieri harus menelan kekalahan ketika kembali ke Stamford Bridge bersama Fulham hari Minggu kemarin – tapi bukanlah hal yang baru jika eks pelatih Chelsea yang datang ke SW6 di Premier League harus merasakan kekecewaan.

Manajer asal Italia itu pernah membesut the Blues selama empat tahun dari tahun 2000 hingga 2004 dan membawa kami ke final FA Cup serta finis di urutan kedua klasemen liga. Namun, kini ia hanya menambah deretan nama mantan manajer the Blues yang kembali ke Stamford Bridge bersama klub lain dan harus pulang dengan membawa kekalahan.

Catatan yang mereka bukukan pun terbilang sangat buruk: 14 kali main, menang nol, imbang lima kali, dan kalah sembilan kali.

Mungkin sebagian orang akan terkejut melihat jumlah pertandingan yang sangat sedikit itu mengingat banyaknya nama besar yang pernah menjadi bos di Stamford Bridge di era modern. Akan tetapi, kita harus menunggu hingga millennium baru sebelum adanya mantan manajer yang kembali ke London barat untuk melakoni laga Premier League.

Orang itu adalah Glenn Hoddle, yang juga pemegang catatan terburuk usai menukangi tim nasional Inggris, jabatan yang ia ambil tak lama setelah mengawali proses modernisasi di Chelsea.

Ia membawa kami ke final FA Cup pertama kami dalam 24 tahun, mendatangkan pemain-pemain legendaries seperti Ruud Gullit dan Mark Hughes. Meski demikian, ia gagal memberikan kemenangan bagi Southampton atau Spurs ketika melawat ke Stamford Bridge.

Empat kali Hoddle kembali dan meski sempat meraih hasil imbang 1-1 dengan kedua klub itu, Spurs besutannya juga pernah ditumbangkan dengan skor 4-0 dan 4-2. Pada laga yang disebut pertama, Jimmy Floyd Hasselbaink mencetak hat-trick “sempurna”, sementara di laga kedua, si pemain asal Belanda itu juga menyumbang gol. Yang mengejutkan, Hoddle belum pernah terlihat menonjol sejak Premier League bergulir.

Satu lagi manajer yang berharap tidak pernah kembali ke SW6 adalah Avram Grant, yang sukses membawa klub ke final Liga Champions pertama mereka dalam sejarah, pada 2008. Kebanyakan penggemar the Blues akan ingat bahwa ketika pria asal Israel itu menangani Portsmouth yang kami singkirkan di final FA Cup untuk mengunci gelar kedua dari raihan Double kami di tahun 2010. Tetapi enam bulan kemudian, ia kembali ke Stamford Bridge dan nyaris mencuri satu poin ketika skor berimbang 1-1 hingga akhirnya Frank Lampard menentukan kemenangan lewat eksekusi penalti di menit-menit akhir.

Sebagian penggemar the Blues akan melupakan kepulangan kedua sekaligus terakhirnya ke Stamford Bridge di ajang Premier League. Kesempatan itu datang di bulan April 2011, ketika Grant membesut West Ham yang di akhir musim terdegradasi ke divisi Championship. Mereka tertinggal 1-0 lewat gol eks pemain bintang the Hammers, Frank Lampard – gol yang sudah ditunggu-tunggu oleh para suporter Chelsea. Pemain yang kala itu memecahkan rekor transfer klub, Fernando Torres membuka torehan golnya bagi klub. Tendangan geledek Florent Malouda menambah dalam luka Grant.

Andre Villas-Boas jadi eks bos the Blues berikutnya yang kembali ke klub, sekitar setahun setelah masa manajerialnya di London barat berakhir. Penggantinya, Roberto Di Matteo, berhasil membawa kami menjadi jawara di Liga Champions, tetapi pertemuan di bulan Mei 2013 ini punya arti penting untuk menyegel posisi kami di Liga Champions musim berikutnya.

Sempat unggul dua kali melalui dua pemain Brasil Oscar dan Ramires, dua kali pula lawan dapat menyamakan kedudukan.

Manajer kami di akhir musim itu adalah Rafael Benitez. Meski si pelatih pernah menang di Stamford Bridge bersama Liverpool, itu terjadi sebelum ia menangani the Blues. Sejak itu, ia baru sekali kembali ke Stamford Bridge di Premier League. Meski Newcastle sempat unggul cepat lewat Dwight Gayle, dua gol Eden Hazard yang diselingi oleh gol Alvaro Morata membuat kami menang 3-1 tahun lalu.

Berikutnya ada Ranieri, yang kepulangan pertamanya ke Stamford Bridge berakhir dengan hasil imbang 1-1. Gol diciptakan oleh Cesc Fabregas dan Danny Drinkwater. Laga itu terjadi di akhir musim 2015/16 dan ketika Leicester City besutan pria Italia itu sudah dipastikan menjadi juara Premier League – juara yang paling mengejutkan sepanjang masa. Jadi, dalam kepulangan berikutnya, kami menduga jika Ranieri lagi-lagi akan membawa pulang satu poin.

Beberapa bulan kemudian, Chelsea tengah dalam perjalanan untuk merebut titel juara dari the Foxes dan gol-gol dari Diego Costa, Hazard, serta Victor Moses memberi kami kemenangan 3-0 di awal dari laju kemenangan terpanjang kami di divisi utama.

Dalam perjalanan tersebut, seorang manajer lain mengalami nasib serupa. Manchester United, yang baru saja menunjuk Jose Mourinho sebagai manajer mereka, harus menyerah 4-1 di tangan Chelsea yang di malam itu mempertontonkan serangan paling mematikan di era Antonio Conte. Pedro membuka keunggulan di menit pertama lalu ditambah oleh Gary Cahill dan Eden Hazard sebelum ditutup oleh N’Golo Kante dengan gol perdananya untuk the Blues.

Pertemuan antar kedua tim yang terjadi musim lalu di Stamford Bridge berakhir dengan tiga poin untuk the Blues. Kali ini berkat tandukan Alvaro Morata. Lalu, di bulan Oktober, kami sukses mempertahankan laju tak terkalahkan dari eks manajer kami berkat gol Ross Barkley yang diceploskan di menit-menit terakhir untuk mengubah kedudukan menjadi 2-2.

Jika Southampton, yang saat ini belum memiliki manajer, tidak menunjuk eks bos Chelsea, maka kesempatan kami untuk memperpanjang rekor tersebut baru akan datang ketika Rafa Benitez dan Newcastle United menyambangi Stamford Bridge pada 12 Januari.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA