Wawancara

Ruben Loftus-Cheek Soal Kemajuannya Musim Ini, Menonton MLS dan Kekuatan Sepakbola Untuk Melawan Diskriminasi

Menjelang laga kontra klub MLS, New England Revolution, Ruben Loftus-Cheek merefleksikan musim yang hebat ini bersama Chelsea sekaligus bicara soal dampak sepakbola untuk menyoroti dan mengatasi diskriminasi.

Laga Final Whistle On Hate ini adalah laga kedua terakhir kami musim 2018/19, sebelum laga final Liga Europa kontra Arsenal di Baku pada Mei.

Bagi Loftus-Cheek, ini merupakan musim yang penuh dengan kemajuan dan kemunduran, namun “pada umumnya kemajuan”, seperti yang ia katakana pada matchday programme untuk laga mala mini.

“Ini merupakan penampilan terbanyakku dalam satu musim, dan juga catatan gol dan assist terbanyakku, jadi buatku pribadi ini bukan musim yang buruk dan ini merupakan sebuah langkah maju,” ujar pemuda 23 tahun.

“Aku tidak terlalu banyak bermain di awal musim dan aku harus melakukan apa yang bisa kulakukan saat latihan dan dengan waktu yang kupunya di lapangan untuk memberi impresi. Aku selalu percaya pada diriku, tetapi jelas, cedera yang kualami menghambat kemajuan itu. ada periode di mana aku tampil apik di awal musim, lalu aku mendapat cedera punggung, tapi aku harus tetap fokus dan kerja keras, agar aku bisa setajam mungkin saat kembali (bermain).”

Loftus-Cheek yakin bahwa kekuatan lini tengah tim di periode akhir musim ini makin baik. ia juga berhasil mencetak beberapa gol, sejauh ini 10 gol, dan yakin bahwa instingnya di depan gawang juga makin berkembang.

“Kurasa ini datang seiring dengan kebugaranku dan waktu main yang lebih baik. Jika bugar, Anda bisa lebih sering masuk ke area itu dan semakin banyak Anda bermain, semain meningkat intelegensi Anda.”

“Anda memahami perkembangan Anda ketika lebih banyak bermain dan aku selalu jadi orang yang ingin mencetak gol dari posisi gelandang, jadi itu hanya akan terus meningkatkan permainan dengan semakin banyaknya menit main yang kudapatkan.”

Loftus-Cheek berkesempatan untuk mendapatkan menit main lagi ketika kami berhadapan dengan New England Revolution di Massachusetts besok pagi. Ia mengungkap bahwa ia tertarik dengan Major League Soccer, yang makin populer.

“Jarang-jarang kami bisa berhadapan dengan klub MLS,” tekan Loftus-Cheek. “Aku ingat pernah bermain melawan tim utama New York Red Bulls ketika kami datang ke sini bersama Jose Mourinho di masa pramusim. Akan menyenangkan bermain melawan tim seperti New England Revolution yang bermain di liga yang sedang berkembang. Mudah-mudahan laga seperti ini bisa berperan mengembangkan liga ini.”

“Aku menonton MLS di beberapa musim terakhir karena beberapa pertandingan mereka disiarkan di Sky Sports di Inggris dan ketika disiarkan, aku menonton. (Permainannya) enak ditonton karena ada banyak pemain terkenal yang ke sana dan membantu perkembangan liga. Bagus ini bisa terjadi karena ini tentu akan membuat kita (makin) tertarik untuk menontonnya.”

Alasan di balik kunjungan Chelsea ke Boston adalah untuk melawan diskriminasi sebagai bagian dari gerakan Say No To Antisemitism, yang dipuncaki dengan laga besok. Loftus-Cheek menimbang apa yang bisa diperankan oleh sepakbola untuk mempromosikan kesetaraan.

“Olahraga ini punya dampak luar biasa besar di dunia. Ini adalah olahraga top di dunia dan kami, para pesepakbola, melalui akun media sosial kami dan lain sebagainya, dapat memberikan pengaruh, jadi penting bagi kami untuk mencoba melakukan sesuatu yang positif.”

“Kami melakukan ini untuk alasan-alasan yang benar – kami dapat membantu mengirim pesan bukan hanya kepada populasi sepakbola, tapi juga ke dunia yang lebih luas. Aku selalu melihat pemain-pemain berdatangan dari negara lain, atau wilayah lain, dan kurasa bagus untuk merangkul itu dan menjadi bagian dari itu.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA