Berita

Kepa Arrizabalaga Soal Persiapan Adu Penalti dan Menghadapi Rintangan Terakhir

Kiper kita ini sukses menjadi tembok pertahanan yang kukuh dan berhasil memastikan tiket ke final di Baku. Di sini, dia merefleksikan laga kontra Eintracht Frankfurt di semifinal, menghadapi tendangan penalti, dan laga derbi besar mendatang…

Kepa Arrizabalaga, bintang dalam adu penalti di semifinal kedua beruntun di Stamford Bridge, bertekad untuk meraih mahkota juara di musim perdananya bersama the Blues.

Kiper yang direkrut pada musim panas tahun lalu ini cuma punya beberapa bulan untuk beradaptasi dengan tugasnya sebelum menghadapi salah satu ujian terekstrem di SW6. Lebih dari 40.000 suporter menyaksikan dengan gelisah, timnya berkumpul di lingkaran tengah dan di dugout, semua fokus tertuju pada bola dan dirinya, dengan laga final jadi pertaruhannya.

Adu penalti pertama yang harus dihadapi Kepa bersama Chelsea adalah di semifinal, melawan Tottenham Hotspur pada Januari. Kala itu dia berhasil menggagalkan sepakan Lucas Moura dan membawa the Blues maju ke final Carabao Cup di Wembley.

Adu penalti kedua, dalam tekanan yang lebih besar, datang awal bulan ini ketika Chelsea memperjuangkan tiket ke final ketiganya di Eropa dalam tujuh tahun (kelima jika memasukkan Piala Super UEFA). Peluang kami untuk menutup musim dengan trofi, melawan rival sekota Arsenal, dan menyapu bersih klub-klub Premier League yang menghalangi langkah kami untuk maju ke final Liga Champions dan Liga Europa.

Kepa kembali tampil tenang dan berhasil menggagalkan dua tembakan lawan sekaligus mengamankan tiket ke laga final yang akan digelar di Baku pada 30 Mei.

“Terkadang, tendangan penalti berpihak pada kita dan terkadang tidak, tapi kali ini, aku senang sekali bisa membantu tim,” aku Kepa dengan rendah hati. Kiper asal Spanyol ini menunjukkan persiapannya dengan berhasil menebak arah tendangan lawan empat kali dari lima percobaan, berhasil menjaga ketenangannya dan sukses mementahkan eksekutor keempat Eintracht Frankfurt, Martin Hinteregger (mengapit bola di antara kedua kakinya, sebuah penyelamatan yang mungkin tidak akan pernah bisa dia ulangi lagi) sebelum kemudian menjatuhkan diri untuk menghentikan tendangan Goncalo Mendes Paciencia dan memberi kesempatan kepada Eden Hazard untuk memastikan kemenangan.

“Kurasa semua kiper zaman sekarang melakukan beberapa analisis – sedikit riset tentang kemungkinan siapa-siapa saja yang akan jadi penendang dan ke mana biasanya tendangan itu mereka arahkan,” jelas Kepa. “Kami punya banyak data dan kita selalu mencari sesuatu yang bisa memberikan keunggulan. Di situasi seperti itu, di mana tidak banyak yang bisa kita kendalikan, itu bisa membantu kita dalam mengambil keputusan. Aku puas sekali bisa melakukannya untuk tim.”

Jika mengingat lagi saat sebelum Kepa menjadi protagonist di semifinal, kiper 24 tahun itu tampil impresif di leg kedua, yang dipuncaki dengan gol apik Ruben Loftus-Cheek di menit ke-28. Namun, Kepa mengaku cukup khawatir dengan membaiknya permainan tim asal Jerman itu, Eintracht, di babak kedua.

“Kami berhadapan dengan tim yang sangat bagus, sangat fisikal. Di babak pertama, kurasa kami mengendalikan permainan dengan baik. Kami mencetak gol pertama dan itu krusial, jadi kami cukup positif menghadapi babak kedua. Tapi, setelah turun minum, penampilan Eintracht membaik dan berhasil mencetak gol penyeimbang dan segala sesuatunya tampak lebih rumit untuk kami karena situasi gol tandang. Laga yang sulit sekali dan sangat intens,” paparnya.

Meski Eintracht punya keuntungan dari segi taktik terkait dengan aturan gol tandang di fase akhir pertandingan, terutama di babak tambahan, di mana satu gol akan membuat mereka maju ke final, Kepa memuji gairah publik Stamford Bridge untuk mendukung tim.

“Suporter kami luar biasa dalam memberikan dorongan semangat agar kami bisa memperpanjang laga ke babak adu penalti dan maju ke final melawan tim yang amat sangat kuat,” katanya. “Dengan atmosfer yang fantastis dan penggemar yang mendukung kami, rasanya istimewa.”

Setelah mengamankan posisi ketiga di liga, di markas Leicester City di laga terakhir – sekali lagi jadi tim London teratas – misi untuk memperoleh tiket ke Liga Champions telah tercapai. Namun demikian, Kepa menegaskan bahwa skuat the Blues belum akan bersantai-santai.

“Kami semua senang bisa lolos dan masuk final,” katanya. “Eintracht membuat kami bekerja keras dan kedua leg di semifinal itu sangat berat, jadi kami yakin bahwa kami layak ada di sini. Sekarang kami harus melewati rintangan terakhir, yaitu memenangi titel yang telah kami lalui dengan banyak pertandingan.”

The Blues sudah tak terkalahkan di 17 laga terakhir di Liga Europa, termasuk kemenangan atas Benfica di final 2013 – rekor di kompetisi ini sejak berganti nama satu dekade lalu – dan Kepa yakin jika bisa mengalahkan Arsenal maka kemenangan itu akan jadi kemenangan yang terbaik.

“Baik penggemar maupun para pemain sudah menantikan laga ini,” tegasnya. “Ini akan jadi laga yang sangat sulit, sebuah laga derbi dan final, jadi segalanya bisa terjadi. Kami akan berlatih untuk setiap kemungkinan, pergi ke sana dan berjuang untuk meraih titel.”

Baca: Kepa – Pembentukan Diri
 

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA