Blogs

Pencetak Gol Chelsea di Final Kompetisi Eropa

Saat The Blues bersiap menghadapi Arsenal untuk memperebutkan trofi Liga Europa, kami melihat kembali semua pemain yang telah mencetak gol di final kompetisi besar Eropa untuk klub ini.

Final Liga Europa Rabu malam akan menjadi yang keenam kalinya kami tampil di final kompetisi UEFA, dan empat dari lima pertandingan sebelumnya telah berakhir dengan kemenangan untuk tim London Barat.

Ketika kami ingin meningkatkan rekor itu menjadi lima kemenangan dari enam pertandingan, dengan nama-nama baru ditambahkan ke daftar pahlawan final Eropa kami, berikut adalah delapan pemain yang telah menulis nama mereka dalam sejarah klub dengan mencetak gol di panggung besar Eropa.

Setelah memenangi Piala FA pada tahun 1970, kami memulai musim di Piala Winners, yang sekarang sudah tidak ada lagi, pada musim berikutnya dan pasukan Dave Sexton berhasil mencapai final di Athena, di mana kami bertemu dengan Real Madrid.

Performa apik Chelsea diwarnai oleh gol dari Peter Osgood, yang melepaskan sepakan mendatar dengan kaki kiri, bereaksi paling cepat ketika bek tengah Gregorio Benito gagal mengantisipasi umpan silang Johnny Boyle ke arah gawang, tetapi gol penyama kedudukan membuat kami harus melakukan aga reply 48 jam berselang.

Pada laga itulah seorang pahlawan mengejutkan muncuk. Pertahanan Real mungkin tidak menyangka ketika sundulan John Dempsey menerima tendangan sudut Cooke terpantul kembali ke arahnya, tetapi bek  tengah kami itu melepaskan tendangan voli terindah untuk memberi kami keunggulan.

Ossie menambahkan gol lainnya tak lama berselang dengan sepakan dari tepi kotak penalti, dan kami akhirnya berhasil meraih kemenangan 2-1 yang berarti Chelsea bukan lagi hanya Kings of the King's Road, tetapi Cup Kings of the Continent.

 

Kami butuh 27 tahun lagi sebelum berada di final kompetisi Eropa lainnya, ketika Gianluca Vialli membawa kami ke Stockholm untuk merebut trofi Piala Winners kedua kami, dan kali ini VfB Stuttgart menunggu kami di final.

Pertandingan itu sendiri berjalan lambat dan seperti butuh keajaiban - dan tak ada yang lebih baik untuk memberikan momen seperti itu daripada Gianfranco Zola, yang masuk daftar pemain pengganti setelah baru pulih dari cedera hamstring.

Si kecil dari Sardinia mungkin bisa dimaklumi jika merasa kecewa karena harus menjadi pemain cadangan, tetapi ketika ia menginjak lapangan pada menit ke-71, semua kekecewaan itu tersalurkan dalam 20 detik sejak ia masuk dengan mencetak gol kemenangan yang membuat kami meraih trofi Eropa kedua kami.

 

Satu dekade kemudian, situasi telah berubah secara signifikan di Stamford Bridge - kami sekarang menjadi peserta reguler di kompetisi teratas Eropa, dan itu adalah final Liga Champions di Moskow ketika kami bertemu Manchester United dalam laga sesama tim Inggris pertama di kompetisi terelit Eropa.

Setelah Setan Merah memimpin melalui Cristiano Ronaldo, kami menyamakan kedudukan di babak pertama ketika tendangan Michael Essien berbelok ke arah Frank Lampard dan, dengan menaklukkan Edwin Van der Sar, pemain Inggris itu mencetak gol ke-20nya musim itu.

Sayangnya itu tidak cukup. Tembakan Didier Drogba membentur tiang di babak kedua dan peluang Lampard juga membentur mistar di perpanjangan waktu, dan kami kalah dalam adu penalti untuk menderita kekalahan dalam final di kompetisi terbesar Eropa.

Tampaknya cerita bakal terulang di Munich empat tahun kemudian, ketika tim ajaib besutan Roberto Di Matteo, setelah perjalanan yang luar biasa ke final, tertinggal dari Bayern yang bermain di kandang mereka sendiri.

Semuanya tampak pupus, tetapi kemudian Fernando Torres dimasukkan dan dengan cepat memenangi sebuah sepakan sudut - yang pertama dari pertandingan itu untuk kami- yang dieksekusi Juan Mata. Umpan sempurna, langsung disambut kepala Didier Drogba dan mengirim bola ke pojok atas gawang melewati hadangan tangan Manuel Neuer.

Tentu saja, Anda tidak perlu memberi tahu kami bagaimana laga ini berakhir, tetapi mari kita nikmati momen itu sekali lagi. Petr Cech dengan luar biasa menghentikan sepakan Ivica Olic dan Bastian Schweinsteiger dalam adu penalti, memberi Drogba peluang untuk menjadi penentu juara. Apa perlu ditanyakan lagi? Chelsea menjadi juara Eropa untuk pertama kalinya!

Hampir satu tahun sejak malam yang luar biasa itu, kami kembali membuat sejarah  - meskipun mungkin tidak dengan cara yang kami inginkan dengan tersisihnya kami dari fase grup Liga Champions membuat kami terlempar ke fase gugur Liga Europa, dan kami akhirnya melaju ke final kompetisi nomor dua Eropa.

Tidak ada klub yang secara bersamaan pernah berstatus sebagai juara Liga Europa dan Liga Champions, tetapi final melawan Benfica di Amsterdam memberi kami kesempatan untuk melakukan hal itu.

Torres, yang finis sebagai pencetak gol terbanyak ketiga dalam kompetisi, mencetak gol pertama kami saat ia menunjukkan kecepatan dan kekuatan yang hebat untuk mengalahkan dua pemain bertahan sebelum menaklukkan kiper dan mencetak gol dari sudut sempit. Selebrasinya pun bagus.

Keunggulan kami tak bertahan lama, dan perpanjangan waktusepertinya akan terjadi dengan the Blues memenangi sepakan sudut di menit-menit terakhir. Sama seperti di Munich, Mata mengambilnya dan kali ini Branislav Ivanovic, bukan Drogba yang sudah meninggalkan klub, yang menyambutnya dengan sebuah sundulan. Bola terarah ke pojok gawang, menciptakan babak lain dari sejarah kompetisi Eropa untuk Chelsea.

Terlebih lagi, the Blues bergabung dengan klub-klub top seperti Ajax, Bayern Munich, dan Juventus yang berhasil menjuarai ketiga kompetisi klub UEFA.

Hanya dua klub yang mengangkat trofi Liga Europa lebih dari satu kali (Sevilla dan Atletico Madrid masing-masing memiliki tiga trofi), tetapi kami dapat menambahkan nama kami ke daftar itu dengan kemenangan atas the Gunners.

Siapa yang akan menjadi pemain the Blues berikutnya untuk bergabung dalam daftar pencetak gol final kompetisi Eropa? Saksikan pada Kamis dini hari mendatang untuk mengetahuinya.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA