Blogs

Pemuda-pemuda yang hebat

Pemain-pemain muda Chelsea tengah beraksi di Piala Eropa Under-21 dan jika menilik keikutsertaan pendahulu-pendahulu mereka, bisa dibilang pemain-pemain muda Chelsea telah banyak meraih kesuksesan di turnamen ini.

Tammy Abraham, Jay Dasilva, Mason Mount, dan Fikayo Tomori tergabung dalam skuat Inggris yang dipimpin oleh kapten Jake Clarke-Salter. Kelima pemain the Blues itu tampil di laga pembuka melawan Prancis di Italia.

Mereka berharap dapat memberikan titel Piala Eropa Under-21 ketiga bagi tim Tiga Singa yang sudah lama terlepas dari tangan. Dua kesuksesan sebelumnya diraih dalam dua pagelaran berturut-turut, pada 1982 dan 1984, di bawah mendiang legenda Chelsea, Dave Sexton yang diasisteni oleh eks gelandang the Blues, Terry Venables.

Setelah sukses membawa the Blues meraih trofi FA Cup perdana dan trofi Eropa, Sexton bergabung dengan tim nasional pada 1977. Keberhasilannya dalam mengalahkan Spanyol dan Jerman Barat di dua final Under-21 berturut-turut membuatnya ditunjuk sebagai direktur teknis pertama di sepakbola Inggris, pada 1984.

Juara lainnya yang punya hubungan dengan Chelsea hanya bermain sebentar di Stamford Bridge. Christian Panucci, yang hanya tampil 10 kali selama masa peminjamannya di musim 2000/01, punya torehan yang sama dengan Sexton yakni dua kali juara beruntun di turnamen ini. Bedanya, saat itu Panucci meraihnya sebagai pemain.

Dia membantu Italia mengalahkan Portugal dalam pertandingan yang ditentukan dengan gol emas pada 1994 dan tampil gemilang dua tahun kemudian kala menaklukkan Spanyol lewat adu penalti meski gagal menjalankan tugasnya sebagai penendang penalti pertama.

Juara Piala Eropa Under-21 lainnya adalah Petr Cech, yang telah memenangi banyak trofi selama 11 tahun bermain bersama the Blues.

Dua tahun sebelum pindah ke Stamford Bridge, kiper ini sudah terbiasa mengangkat trofi ketika membantu Republik Ceko secara mengejutkan menang atas Prancis di final pada 2002 yang digelar di Swiss.

Setelah kalah di final sebelumnya, tidaklah mengejutkan jika Cech, pembeda pada tahun 2002 itu, mendapat banyak pujian atas permainannya dalam laga yang berakhir 0-0 itu sebelum akhirnya membuat dua penyelamatan dalam adu tendangan penalti. Bukan sesuatu yang baru lagi bagi kita.

Manajer Prancis, juara dua, kala itu, Raymond Domenech berkata, “Mereka punya kiper yang sangat bagus, bukan hanya dalam ukuran tubuh tetapi juga dengan permainannya, dan itu menghsailkan perbedaan.”

Dengan pengecualian pada Marko Marin, tidak diturunkan dari bangku cadangan, yang berhasil mengangkat trofi bersama Jerman pada 2009, usai menang 4-0 atas Inggrisnya Michael Mancienne, semua pemain Chelsea yang memetik kesuksesan di turnamen ini semuanya berasal dari Spanyol, negara yang menyapu bersih semua trofi internasional sejak awal 2010.

Cesar Azpilicueta dan Juan Mata adalah bagian dari skuat Spanyol yang mengeyam kesuksesan di tahun 2011, mungkin tidaklah mengejutkan jika Mata juga masuk dalam skuat senior Spanyol yang menjuarai Piala Dunia di gelaran sebelumnya. Dua tahun kemudia, Alvaro Morata membantu timnya menaklukkan Italia. Mantan striker Chelsea, Fabio Borini, juga mencatatkan namanya di papan skor untuk Italia.

Pemain lain yang berlaga di final harus menelan kekalahan. Kepa Arrizabalaga harus mengakhiri turnamen dengan kekalahan ketika Spanyol ditundukkan Jerman 1-0, dua tahun lalu.

Nasib berbeda dialami oleh Branislav Ivanovic bersama Serbia dan Montenegro, yang pertama kalah 3-0 dari Italia di final pada 2004. Kala itu, Branislav Ivanovic mendapat kartu merah di menit-menit terakhir masa perpanjangan waktu dan timnya harus bermain dengan sembilan pemain. Pada kesempatan kedua, kali ini sebagai kapten Serbia, tiga tahun kemudian, salah seorang pemain mereka kembali dikartu merah saat mereka takluk 4-1 dari tuan rumah Belanda.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA