Sejarah

Pertama Kali Bertemu dengan Lamps

Pada hari di mana Frank Lampard diumumkan ke media sebagai pelatih kepala kami yang baru, kami mengingat kembali konferensi pers perdananya sebagai pemain Chelsea 18 tahun lalu, yang dilangsungkan di Stamford Bridge.

Pada saat itu, Lampard masih berusia 23 tahun dan tengah mencari jalannya di dunia sepak bola; kini dia kembali sebagai bos kami dengan menyandang status sebagai gelandang terbaik sepanjang masa kami dan telah melewati langkah pertamanya di dunia manajemen.

Onside, newspaper klub kala itu, merangkumkan ucapan pertama Lampard ke media pada musim panas 2001 ketika, usai menyeberangi London dari West Ham, menggarisbawahi niatnya untuk mencetak banyak gol bagi the Blues, memenangi medali dan bermain reguler di panggung internasional. Bagaimana hingga harapan-harapan itu akhirnya terwujud…

Level baru Lampard

Pertama kali dipublikasikan pada Agustus 2001

Dua musim lalu, West Ham finis di peringkat sembilan setelah sebelumnya berhasil menjuarai Piala Intertoto hingga Piala UEFA, dan Frank Lampard menutup musim itu bermain bagi Inggris untuk kali pertama dan mengapteni negaranya di Piala Eropa Under-21.

Pemuda 23 tahun yang direkrut Chelsea dengan mahar sebesar £11m dan menandatangani kontrak berdurasi lima tahun itu menyatakan bahwa itu adalah musim terbaik sejauh itu.

“Aku mencetak 14 gol dan melaju di (kompetisi) Eropa, yang mana bagus untukku. Aku suka berpikir bahwa aku adalah gelandang pencetak gol, dan aku banyak mencetak gol tahun itu.”

Tetapi dia mengaku bahwa laga kompetitif sebelum dan sesudah musim kompetisi telah menguras tenaganya, dan dia merasa lelah menjelang akhir dari musim terakhirnya di sana. Pada penampilan puncak mereka, West Ham berhasil menjuarai FA Cup, mengalahkan pemuncak klasemen Manchester United dan peringkat kedua Sunderland pada tahun 2001. Namun, setelah mencetak dua gol di Bradford City yang secara perhitungan berhasil mengamankan keterlibatan mereka di Premiership, Frank harus menjalani operasi hernia dan sejak itu belum bisa bermain lagi.

“Aku menikmati musim panas yang panjang,” katanya sambil tersenyum.

“Anda memang bisa kelelahan. Aku mengalami sesuatu di dua atau tiga musim panas terakhir. Sekarang aku telah beristirahat dengan baik dan aku tak sabar lagi untuk mulai (bermain lagi). Aku siap berlaga.”

Kedatangannya ke Chelsea terwujud dalam empat tahapan. Pertama, pada saat itu kami tengah mencari dua gelandang tengah. Kedua, ketika Emmanuel Petit dengan kualitas pertahanannya direkrut, berarti gelandang keduanya adalah gelandang serang. Ketiga, ketika Gustavo Poyet pergi, kami merasa membutuhkan seorang gelandang yang dapat mencetak gol. Terakhir, perubahan manajemen di West Ham membuat pemain yang diperkirakan tidak akan siap tampil menjadi siap.

Dalam konferensi pers untuk mengumumkan kedatangannya, Frank mendapatkan lima pertanyaan tentang West Ham. Dengan jelas dia mengutarakan hasratnya kepada semua pendengarnya.

“Aku ingin duduk di sini dan bicara tentang Chelsea,” katanya. “Mudah-mudahan, aku dapat menguji diriku melawan pemain-pemain terbaik di Eropa, bekerja dengan pelatih yang dapat memberikan yang lebih baik pada permainanku. Setelah berbicara dengan manajer, aku suka apa yang dia katakan secara taktik, bagaimana dia melihatku cocok (untuk permainannya). Aku menjalani tahun-tahun yang baik di West Ham, tetapi sekarang aku merasa bisa bergerak ke level yang berbeda.”

“Mereka membutuhkan kesuksesan di sini, mereka klub besar.”

Musim lalu adalah pertama kalinya menang dua kali atas West Ham di divisi utama. Lampard hanya dikartu kuning tiga kali sepanjang musim, tetapi dua di antaranya didapatnya saat dua kali melawan kami. Yang pertama usai melanggar Dennis Wise.

“Dennis berkata bahwa dia akan melewatiku, tetapi tidak pernah bisa,” kata Frank Lampard sambil tertawa. Satu kartu lainnya diperolehnya akibat melanggar Slavisa Jokanovic.

Dia adalah bagian dari tim West Ham yang menyambangi Stamford Bridge pada 1999 dan berhasil mencuri kemenangan 1-0 yang akhirnya menghancurkan peluang kami untuk bersaing menjadi yang terbaik di Premiership. “Aku masih mengingatnya dengan baik,” katanya tentang laga itu. “Kami memadati lini tengah, mendapat satu peluang dan mencetak gol. Kami senang hari itu.”

Sebagian besar bermain sebagai salah satu dari tiga gelandang tengah dari skema lima gelandang, dia juga mampu bermain dalam skema empat gelandang di belakang pemain kelima, penyerang lubang – Berkovic atau Di Canio – serta dalam formasi 4-4-2 ketika dia dimainkan di tengah atau di kanan.

“Aku bisa bermain di mana pun di lini tengah,” tegasnya, “tetapi posisi terbaikku mungkin di tengah. Aku suka maju ke depan dari lapangan tengah, mencetak dan menciptakan peluang gol. Aku ingin mencetak lebih banyak gol sundulan.”

Di laga pertamanya untuk tim nasional Inggris, di bawah Kevin Keagan, dia digantikan oleh Wise “yang kembali setelah dibuang oleh Hoddle”. Di laga kedua, dia memulai laga di bangku cadangan, baru diturunkan di babak kedua di laga pertama Sven-Goran Eriksson.

“Aku ingin kembali ke persiapan (timnas) Inggris dan memenangi banyak medali di sini,” akunya. Selama menjadi pemain West Ham, medalilah yang kerap terlepas dari tangannya.

Pria yang bersahabat baik dengan Jody Morris semasa bermain bersama di timnas Inggris Under-21, dan mengenal John Terry yang besar di wilayah yang sama dengan tempat tinggalnya, meninggalkan kandangnya dengan banyak cara dan sama sekali tidak khawatir jika kepindahannya akan menjadikannya sebagai gelandang termahal di Premiership.

“Aku sudah jadi pemain West Ham seumur hidupku. Ini akan menjadi sebuah perubahan besar untukku. Tapi Chelsea adalah klub besar, jenis klub yang selalu ingin kubela. Aku orang yang ambisius.”

“Aku punya tekanan untuk bermain demi Ayah dan pamanku di West Ham, jadi tekanan tidak akan membuatku khawatir. Tapi aku harus menunjukkan bahwa aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri, menunjukkan kemampuanku.”

“Stadion ini tampak fantastis, dan dengan pemain-pemain ini kami dapat melaju jauh. Jika kami tampil dengan baik, kami bisa bersaing di semua kompetisi. Kami punya pemain yang konsisten.”

Pria yang biasa menjadi eksekutor penalti West Ham ketika tidak diambil oleh Paolo Di Canio ini sudah siap tampil bulan depan.

“Aku sudah siap untuk pramusim yang berat. Aku gemar berlari. Aku tahu ini terdengar aneh, sebagian besar pemain benci melakukannya. Aku tidak menantikan itu, tapi aku tak masalah ketika harus melakukannya.”

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA