Blog

Malam Berkesan di Vienna

Di laga selanjutnya di pramusim ini, Chelsea akan menyambangi markas RB Salzburg. Bagaimana sejarah kami ketika menjalani laga kompetitif di Austria?

Kami pernah berkunjung ke tanah kelahiran Wolfgang Mozard, Sigmund Freud, dan Arnold Schwarzenegger sebanyak dua kali di kompetisi Eropa, yang sama-sama berlangsung sengit dan akhirnya membawa kami ke semifinal.

Terakhir kali kami berlaga di sana adalah di babak kedua turnamen Piala Winners 1994/95 yang mana merupakan bukti kebangkitan kami di tahun 90an di bawah besutan Glenn Hoddle.

Kami ditahan imbang tanpa gol ketika menghadapi pertahanan ketat tim tamu di Stamford Bridge, meski Vienna harus bermain dengan 10 orang. Ini berarti tugas berat menanti kami di ibu kota Austria.

Di tengah upaya tuan rumah untuk mencetak gol pembuka sebelum turun minum, mereka malah kebobolan oleh John Spencer, gol yang selalu diingat oleh setiap penggemar Chelsea yang datang ke Austria musim itu.

Sebuah tendangan roket dari sebuah tembakan yang diblokir menyusul sepak pojok Vienna membebaskan Spencer dari penjaganya, sekitar 10 yard di luar kotak penaltinya sendiri.

Pemain depan bertubuh mungil itu kemudian berlari cepat, menggiring bola dan melewati sebagian besar panjang lapangan Ernst Happel Stadium, dikejar sekuat tenaga hampir oleh semua pemain lawan, sebelum kemudian dengan tenang mengecoh kiper lawan dan mengangkat bola ke gawang.

Austria Vienna bisa memperkecil ketertinggalan dengan mencetak satu gol lewat sebuah tendangan setengah voli keras di babak kedua, namun gagal menyamakan kedudukan. Ini berarti gol tandang yang dicetak oleh Spencer telah meloloskan kami dan mempertemukan kami dengan Club Brugge, yang kami menangi, sebelum kemudian harus tersingkir secara menyakitkan dari Real Zaragoza dengan skor agregat 4-3 di babak empat besar.

Lawatan sebelum itu terjadi hampir 30 tahun sebelum laga tersebut, yaitu di Piala Fairs 1965/66, di mana kala itu tim Chelsea yang tengah bangkit di bawah komando Tommy Docherty. Di titik itu, kami masih mengejar kesuksesan perdana kami di League Cup dan banyak di antara pemain-pemain muda yang membentuk formasi “Berlian” ini akhirnya berhasil meraih kejayaan di FA Cup dan Piala Winners bersama Dave Sexton.

Piala Fairs menjadi ajang legendaris untuk kami di mana kami berhasil menaklukkan raksasa Italia AC Milan dan Roma, juara Jerman 1860 Munich dan memaksa Barcelona bermain imbang sebelum akhirnya menyerah di semifinal. Namun, laga kontra Wiener di babak kedua kerap terlupakan.

Menghadapi salah satu klub tertua di Austria, yang mana adalah klub terkemuka di Eropa pada era 60an – meski sejak itu selalu kesulitan dan tergelincir di divisi sepak bola regional - kami kembali mempersulit diri kami sendiri di leg pertama.

Bermain di kandang Vienna, di mana kami terus berjuang keras mempertahankan wilayah kami hingga Marvin Hinton diusir wasit ketika laga tersisa 10 menit lagi. Tendangan penalti jelang akhir pertandingan memberi harapan bagi Wiener untuk membawa keunggulan ke London barat.

Namun, the Blues yang jarang menerima kekalahan itu hanya butuh enam menit untuk menyamakan kedudukan di Stamford Bridge lewat Bert Murray. Sang legenda Peter Osgood membuat kami unggul setelah setengah jam. Striker belia itu mencetak gol ketiganya dari 10 penampilan di awal kariernya. Kemudian, Peter Bonetti dan bek-beknya menjalankan tugasnya dengan baik untuk meredam serangan-serangan tim tamu dan kali ini Wiener yang harus bermain dengan 10 orang menjelang laga usai.

Meski lolos ke babak selanjutnya, sebuah kejadian mengecewakan terjadi ketika Ken Shellito mensinyalkan bahwa itu adalah penampilan terakhirnya bersama Chelsea. Full-back itu berupaya kembali bermain usai cedera lutut parahnya pulih, namun cedera yang berulang kali kambuh membuatnya harus mengakhiri kariernya di usia 25 tahun, meski keputusannya untuk pensiun baru diumumkan secara resmi hampir sekitar tiga tahun dan beberapa operasi kemudian.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA