Blog

Dari Serie A ke Stamford Bridge

Gonzalo Higuain jadi anggota terbaru dari skuat the Blues yang didatangkan dari divisi utama sepak bola Italia dan berikut kisah mereka di Serie A.

Sejak musim panas 2016, kami punya pelatih kepala asal Italia di Stamford Bridge, Antonio Conte yang tongkat estafetnya kemudian diberikan kepada pelatih asal Italia lainnya, Maurizio Sarri.

Dalam dua setengah tahun terakhir, ada banyak pemain yang kami datangkan dari Serie A atau pernah bermain di kasta teratas sepak bola Italia, yang punya reputasi sebagai liga terbaik dunia dan bertabur bintang di era 80an dan 90an.

Rekrutan teranyar kami, Higuain, sudah mencetak lebih dari seratus gol di Serie A sejak pindah dari Real Madrid ke Napoli pada 2013, yang 36 di antaranya dicatatkan di satu musim saja – musim 2015/16 di bawah asuhan Sarri – atau rata-rata lebih dari satu gol per pertandingan.

Bagaimana dengan kisah pemain-pemain kami lainnya semasa berkarier di Italia?

Keempat pemain belakang kami didatangkan langsung dari Serie A, yang telah lama dikenal sebagai liga dengan pertahanan terbaik sejak zaman Catenaccio-nya Inter besutan Helenio Herrera di era 60an.

Antonio Rudiger bermain selama dua musim di Roma, pertama berstatus pemain pinjaman menyusul penampilan apiknya bersama VfB Stuttgart. Di ibu kota Italia itulah pemain bernomor punggung 2 ini mulai menjelma menjadi salah satu bek terbaik di Eropa dan juga telah berpengalaman bermain di Liga Champions ketika menjadi bagian dari lini belakang Giallorossi. Ia nyaris bisa membantu timnya mengakhiri keperkasaan Juventus dalam menjadi Scudetto ketika finis di peringkat dua dengan torehan 87 poin di musim 2016/17.

Pemain kelahiran Brasil, Emerson Palmieri bermain bersama Rudiger di Stadio Olimpico, setelah didaratkan dari klub Brasil, Santos. Sebelum itu, ia sempat dipinjamkan ke Palermo dan meski menit mainnya terbatas selama dua musim di Serie A, ia masih tampil 25 kali bagi Roma. Ia juga memiliki darah Italia sehingga dapat membela Italia di level internasional.

Full-back lainnya, Davide Zappacosta juga seorang pemain internasional Italia. Setelah mengukuhkan dirinya sebagai salah satu bek terbaik di Serie B, ia naik level ke divisi utama bersama Atalanta. Tetapi, bintangnya mulai bersinar ketika ia bermain untuk Torino. Ia kemudian dipanggil ke tim nasional Italia, yang kala itu dibesut oleh Conte, untuk turnamen Euro 2016. Setahun kemudian, ia kembali bekerja sama dengan Conte di London barat dan tampil mengesankan di laga pertamanya untuk the Blues dengan sebuah gol spektakuler ke gawang Qarabag.

Perjalanan Marcos Alonso ke Stamford Bridge terbilang menarik, karena ia terlebih dahulu pindah dari Real Madrid ke Bolton Wanderers lalu ke Fiorentina di Italia – dan bermain di Florence dan Sunderland di musim pertamanya. Setelah kembali dari Wearside ke Serie A, ia jadi pemain kunci dari tim Fiorentina hingga kemudian mendarat di Chelsea pada 2016. Ia mencetak gol pertamanya bagi klub saat mengalahkan Roma 3-0 di babak 16 besar Liga Europa. Mantan bek the Blues, Ashley Cole ada di bangku cadangan Giallorossi di laga itu.

Seperti halnya Higuain, Jorginho bermain di bawah besutan Sarri di Napoli. Ia jadi sosok kunci dari sistem permainan mengalir si pelatih yang musim lalu nyaris mematahkan dominasi tujuh tahun Juventus di Serie A dengan raihan 91 poin. Meski lahir di Brasil, gelandang ini pindah ke Italia saat berusia 15 tahun dan mengawali kariernya di Verona. Ia mencetak tujuh gol di musim debutnya di Serie A bagi klub tersebut. Ketika bermain di Naples, ia juga sempat menjuarai Coppa Italia.

Meski sebagian besar penggemar the Blues baru mengenal nama Mateo Kovacic ketika bermain untuk Real Madrid selama tiga musim, di mana ia sukses menjuarai Liga Champions di setiap musimnya, sebelum dipinjamkan ke Chelsea, di Inter-lah ia pertama kali merasakan salah satu dari lima liga terbaik Eropa. Ia membukukan gol terbanyak di sepanjang kariernya di musim kedua dan musim penuh terakhirnya di San Siro, yaitu delapan gol, yang di antaranya berupa hat-trick di playoff Liga Europa.

Salah satu gelar juara Liga Champions yang diraih Kovacic bersama Madrid datang ketika bermain bersama Alvaro Morata, yang kembali ke klub tersebut setelah bermain dua tahun di Juventus. Meski dua kali mengangkat trofi Scudetto di Turin, ia lebih sering dimainkan sebagai pemain pengganti. Tetapi, di klub itu pula namanya terangkat. Bianconeri mencapai final Liga Champions 2014/15 dan Morata berhasil mencetak gol di babak 16 besar melawan Borussia Dortmund dan di semifinal melawan Real Madrid. Ia juga menciptakan gol penyeimbang kala melawan Barcelona di final meski akhirnya harus menyerah 3-1.

Tentu saja pemain kami yang berasal dari Serie A tidak terbatas hanya dari skuat saat ini saja. Sarri memang tidak pernah menjejakkan kakinya di lapangan sebelum menjalani karier kepelatihannya, tetapi berbeda dengan kedua assistennya, Carlo Cudicini dan Gianfranco Zola. Cudicini pernah bermain di Liga Champions bersama AC Milan, klub yang mengakui ayahnya sebagai salah satu kiper terbaik sepanjang masa yang pernah mereka punyai. Sedangkan Zola pernah menjadi juara ketika menjadi pelapis Maradona di Napoli. Sebelum dan sesudah mengalami periode magisnya di Chelsea, ia menjadi bintang bagi Parma dan Cagliari, menutup kariernya di klub dari kota kelahirannya itu.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA