Blog

Bagaimana Rasanya?

Bagaimana rasanya menjadi pencetak gol kemenangan Chelsea di final League Cup? Kami menemukan jawabannya dari mantan pemain favorit the Blues.

Frank Sinclair adalah bek serbabisa yang rasa cintanya pada klub dan semangatnya yang pantang menyerah membuatnya dijadikan sebagai pahlawan di Stamford Bridge.

Bergabung sejak usia 11 tahun, ia berhasil memenuhi ambisinya mengenakan kaus dengan nomor punggung 3 milik pahlawannya, Joey Jones, dan mengikuti jejak pria Wales itu dengan memenangi gelar Player of the Year.

Namun demikian, kemampuannya sempat diragukan, di laga terakhirnya dalam balutan kaus the Blues, ketika ia mencetak gol kemenangan ke gawang Middlesbrough di final League Cup 1998.

Bagaimana rasanya bisa mengunci trofi bagi klub kesayangan masa kecilmu? Waktu kami persilakan, Frank…

“Aku memberikan segalanya di laga ini, dan, ketika waktu normal hampir berakhir, Luca Vialli menarik keluar Dan Petrescu dan menempatkanku di posisi bek sayap kanan. Aku kepayahan lalu berkata pada diriku sendiri, “Apa yang ia lakukan? Bagaimana aku bisa bermain di babak tambahan?”

“Lalu, lima menit setelah akhir waktu normal, operan Paul Gascoigne lemah lalu kurebut dan kuoper ke Gianfranco Zola. Dennis Wise berlari melebar dan diberi bola oleh Zola. Tubuhku bergerak dengan sendirinya, terus bergerak. Aku mulai berlari ke dalam kotak penalti, aku mendapatkan visi tentang apa yang akan Wisey lakukan. Aku sudah sering melihatnya saat latihan – jika ia kesulitan menguasai bola, ia akan mengumpan silang di tempat ketika ia jatuh. Kulihat sentuhannya lemah dan Wisey bukanlah pemain tercepat, jadi aku tahu apa yang akan terjadi aku kugambarkan itu di kepalaku. Aku mungkin adalah satu-satunya pemain di kotak penalti yang mengantisipasi (umpan Wise) dan ia pun mengoper tepat ke arahku.”

“Golku banyak berasal dari sundulan. Aku sangat kuat dalam bertahan di belakang bola dan punya lompatan yang bagus untuk ukuran setinggiku, 175 cm. Kuterima bola di titik tertinggiku lalu kutanduk. Aku tak bisa menanduknya keras-keras karena posisi lambung bola, jadi aku hanya berusaha mengarahkannya kesulit mungkin untuk dijangkau kiper – yaitu dengan menanduknya ke bawah. Bola itu masuk – dan aku merasa luar biasa! Aku tahu aku harus melakukan selebrasi. Perut terasa geli ketika kita mencetak gol, tapi aku terlalu lelah. Aku cuma bisa berlari sedikit lalu ambruk. Yang kuingat hanyalah Gianfranco Zola melompat ke atasku dan berteriak, “Percayalah! Percayalah!” Dan kujawab, “Aku tak percaya!”

“Yang tak kuketahui adalah itu jadi laga terakhirku untuk klub. Aku mencetak gol ketika bermain dengan cedera kunci paha dan kurasa kami sudah tidak punya pergantian pemain lagi. Jadi, aku hanay terus bermain, yang membuat (cedera itu) memburuk. Jadi, perasaanku campur-aduk ketika menonton video itu lagi. Itu adalah gol terpenting yang pernah kubikin, di laga besar, tapi meski bangga bisa mengukirnya, ada rasa kecewa karena itu adalah laga terakhirku.”

Roberto Di Matteo melanjutkan gol Sinclair itu dengan mencetak gol kedua beruntunnya di final kompetisi piala untuk the Blues, melawan Middlesbrough. Akhirnya, satu trofi lagi ditambahkan ke kabinet trofi kami setelah menanti selama hampir tiga dekade.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA