Indonesia

Chelsea di Tahun Tikus

Tahun Tikus biasanya dijadikan sebagai awal dari siklus 12 tahun shio dan dalam kasus Chelsea, tahun ini menandai serangkaian awal baru yang penting dalam sejarah klub.

Untuk merayakan Tahun Baru Imlek, mari kita tilik beberapa momen penting dari sejarah the Blues yang membanggakan di beberapa Tahun Tikus yang telah berlalu.

1960 - Bonetti melakoni debut untuk Chelsea

Di awal tahun 1960-an, Chelsea kedatangan Cat (kucing) dan bukannya tikus dan pada 2 April 1960 Peter Bonetti melakukan debutnya saat masih berusia 18 tahun, bahkan membukukan clean sheet dalam kemenangan 3-0 atas Manchester City di Stamford Bridge.

The Cat, julukan yang diberikan kepadanya sesuai dengan kelincahannya yang luar biasa, tampil sebanyak 729 kali bagi tim utama selama 19 tahun kemudian dan jadi sosok penting di tim Chelsea yang berhasil menjuarai League Cup 1965, FA Cup 1970, dan Piala Winners 1971.

Untuk urusan penampilan bersama the Blues, Bonetti hanya kalah dari Ron Harris. Selain itu, dia adalah pemegang rekor clean sheet terbanyak kami, 208 kali, yang bertahan lama hingga dipecahkan oleh Petr Cech pada 2014.

Kesuksesan pertama di FA Youth Cup: Bintang-bintang masa depan Bonetti, Terry Venables, dan Bobby Tambling sukses membantu Chelsea mengangkat trofi FA Youth Cup untuk kali pertama setelah menaklukkan Preston North End dengan skor 5-2 di final. The Blues ditahan imbang 1-1 di Stamford Bridge namun kemudian menang 4-1 di pertemuan berikutnya berkat hat-trick Tambling.

1972 – Blue is the Colour direkam

Sebuah lagu yang identik dengan Chelsea, “Blue is the Colour” direkam dan dirilis pada awal 1972 saat the Blues tengah mempersiapkan diri menghadapi Stoke City di final League Cup.


Dinyanyikan oleh beberapa pemain tim utama antara lain Ron Harris, Peter Osgood, Charlie Cooke, dan David Webb, lagu ini jadi hit dan masih jadi salah satu lagu sepak bola terpopuler sepanjang masa di Inggris, berada di urutan kelima pada Maret 1972.

Meski masih menjadi lagu kesayangan pada penggemar the Blues di Stamford Bridge, lagu ini juga diadopsi dan diadaptasi ke dalam anthem sejumlah tim sepak bola antara lain klub Kanada Vancouver Whitecaps, klub Jepang Montedio Yamagata, dan klub Norwegia Molde FK.

Kekecewaan di League Cup: Meski “Blue is the Colour” menjadi hit, Chelsea tampil kurang maksimal di final League Cup yang digelar pada 4 Maret. Pasukan Dave Sexton, yang lebih difavoritkan, takluk 2-1 di tangan Stoke City. Pemain veteran George Eastham mencetak gol kemenangan timnya di menit ke-73.

1984 – Juara Divisi Dua

Hanya setahun setelah lolos tipis dari degradasi ke Divisi Tiga, Chelsea sukses meraih mahkota juara Divisi Dua dengan tampil luar biasa di bawah besutan John Neal.

Dengan skuat yang telah dirombak, diperkuat oleh kiper Eddie Niedzwiecki, gelandang Nigel Spackman, pemain sayap Pat Nevin dan striker Kerry Dixon, the Blues terus tak terkalahkan di liga sejak kalah di markas Middlesbrough pada 2 Januari dan sudah mengunci promosi ketika membekuk Leeds United dengan skor 5-0 saat masih menyisakan empat laga lagi di liga.

The Blues masih tertinggal lima poin dari pemuncak klasemen Sheffield Wednesday hingga tiga laga terakhir namun berhasil meraup poin maksimal sementara the Owls malah tersandung. Gelar juara pun jadi milik kami.

Kembali ke divisi utama: Setelah absen selama lima musim, sekembalinya ke divisi utama, the Blues memulai musim dengan menyambangi markas Arsenal di laga pertama musim 1984/85. Penggemar Chelsea memadati Highbury untuk menyaksikan laga derbi tersebut dan membuat stadion bergetar ketika Dixon mencetak sebuah gol penyeimbang apik yang sekaligus mengamankan hasil imbang 1-1.

1996 – Gullit duduki kursi panas

Ruud Gullit membuat sejarah ketika ditunjuk sebagai pemain-manajer pada Mei 1996, menyusul kepergian Glenn Hoddle, dengan menjadi manajer non Inggris pertama Chelsea.

Meski pria asal Belanda ini hanya membesut tim selama kurang dari dua tahun, dia berhasil mengubah wajah klub dengan mendatangkan pemain-pemain besar dari luar Inggris antara lain Gianluca Vialli dan Gianfranco Zola, dan menjadikan the Blues sebagai kekuatan yang diperhitungkan di Premier League.

Dia juga membawa kami menang 2-0 atas Middlesbrough di final FA Cup 1997, mengakhiri puasa gelar kami yang telah berlangsung selama 26 tahun.

Hat-trick pertama di Premier League: Baru di musim keempat Premier League seorang pemain Chelsea dapat mencetak hat-trick. Gavin Peacock mengemas tiga gol kala membungkam Middlesbrough dengan skor 5-0 pada Februari 1996.

2008 – Final Liga Champions pertama

Setelah selalu tersingkir di semifinal Liga Champions sebanyak tiga kali di empat musim sebelumnya, Chelsea akhirnya berhasil mengamankan tiket ke final pagelaran sepak bola terbesar antar klub Eropa tersebut usai meraih kemenangan dramatis atas Liverpool di babak empat besar.

Di suatu malam di Stamford Bridge, Frank Lampard – yang baru saja kehilangan ibundanya – tampil sangat tenang saat mengeksekusi tendangan penalti untuk membawa the Blues unggul 2-1. Didier Drogba kemudian mencetak gol ketiga yang memastikan langkah kami ke final untuk menghadapi Manchester United di Moscow.

Sayangnya, final tersebut belum menjadi milik kami setelah tembakan Lampard dan Drogba sama-sama mengenai tiang gawang. Setelah skor imbang 1-1, United akhirnya keluar sebagai pemenang dalam adu penalti dalam laga yang digelar di ibu kota Rusia yang pada hari itu turun hujan. Ini memang sebuah pengalaman pahit, namun sebagian pemain kami akhirnya berhasil merayakan kesuksesan di Munich empat tahun kemudian.

Selangkah lagi dari kesuksesan: Inilah yang terjadi pada the Blues di musim 2007/08 di mana kami juga takluk di final League Cup, oleh Tottenham Hotspur, dan kalah tipis dari United dalam perebutan juara Premier League setelah terus bersaing hingga laga terakhir.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA