Sejarah

Dua Gol dari Bek Chelsea - Dwigol dari Lini Belakang

Sabtu lalu Antonio Rudiger membuat dua gol yang membantu kami meraih hasil imbang di markas Leicester City yang tampil apik musim ini, namun dia bukanlah bek pertama yang mampu tampil baik di dua sisi lapangan dan mencetak dua gol dalam satu pertandingan. Jika melihat yang telah dilakukan oleh para pendahulunya, maka Anda tidak akan terkejut ketika dia menorehkan catatan ini.

Bek asal Jerman itu mencetak gol pembuka dan penutup laga di King Power Stadium – keduanya lewat tandukan dan sama-sama berasal dari umpan Mason Mount. Jika gol pertamanya membuat kami unggul atas the Foxes tak lama setelah babak kedua dimulai, maka gol keduanya membuat skor menjadi berimbang.

Meski memang tidak sering seorang bek bisa mencetak dua gol dalam satu pertandingan, namun ada beberapa contoh pendahulunya yang melakukan hal serupa di era Premier League. Tak ada yang lebih pas untuk memulainya dengan menyebut nama yang dipanggil oleh publik Stamford Bridge sebagai “Branislav Ivanovic, Si Dua Gol” setiap kali dia tampil di kandang selama kariernya bersama Chelsea.

Yang membuat catatan itu lebih menarik lagi, pemain asal Serbia itu belum pernah mencetak gol untuk kami sebelum malam di Eropa pada awal April 2009 itu. Oleh karena itu, sah untuk berkata bahwa mencetak dua gol ke gawang Liverpool di perempat final Liga Champions akan membuat orang tersebut populer di kalangan fans, belum lagi aksi-aksinya saat menghentikan usaha lawan dalam membahayakan gawang kami.

Kami tertinggal cepat setelah dibobol oleh Fernando Torres, namun Ivanovic berhasil mengekspos celah di lini belakang Liverpool dengan dua kali memanfaatkan peluang dari situasi bola mati – sepak pojok di masing-masing babak – untuk mengalahkan Pepe Reina dengan sundulannya dan membuat skor menjadi seimbang. Memang Didier Drogba yang kemudian membuat kami unggul atas the Reds di leg kedua yang digelar di Anfield, namun tak diragukan lagi bila Ivanonic-lah pahlawan kami di partai itu.

 

Setelah mencetak dua gol pertamanya itu, Ivanovic menunjukkan insting mencetak golnya dengan muncul di saat-saat genting dan bahkan kembali mengemas brace di dua kesempatan lain, saat menggulung Spartak Moscow di fase grup Liga Champions dengan skor 4-1 – klub rival sekotanya semasa membela Lokomotiv – di musim 2011/12, dan semusim berikutnya kala menaklukkan Aston Villa dengan skor 4-2 di Premier League.

Dengan prestasi itu, Ivanovic jadi bek pertama Chelsea yang mampu membukukan dua gol di kompetisi-kompetisi tadi, dan masih jadi satu-satunya bek kami yang bisa melakukannya di Liga Champions. Khusus di Premier League, selain dia dan Rudiger, ada dua bek lain yang punya torehan serupa. Yang mungkin bisa jadi pertanda menjanjikan, kedua bek tersebut pernah melakukannya lebih dari sekali.

Yang terbaru adalah rekan setim Rudiger saat ini, Marcos Alonso, yang kedua brace-nya tercipta dalam selang lima bulan di musim 2017/18. Dua gol pertamanya lebih dikenang ketimbang dua gol keduanya, karena memberikan kemenangan atas rival sekota, Tottenham, di laga “pertama” mereka di Wembley Stadium.

Gol pertamanya yang kemudian menjadi ciri khas si pria Spanyol, membidik sudut atas gawang dengan tendangan yang keras dan melengkung, itu membuat kami unggul. Dia kemudian kembali menaklukkan Hugo Lloris lewat sepakan jarak dekat, memanfaatkan sepakan drive Pedro, untuk memberikan kemenangan di menit ke-88.

Alonso melakukannya lagi, dalam lawatan ke King Power Stadium, yang membantu kami menang 3-0 atas Leicester. Uniknya lagi, kedua gol bek kiri itu tercipta di menit keenam masing-masing babak, dengan menyambar umpan lay-off Eden Hazard ke sudut pojok gawang, kemudian melepas tembakan drive yang tak mampu dihentikan Kasper Schmeichel, setelah bola sempat mengenai Wes Morgan, usai tendangan bebas Willian tak disapu dengan sempurna oleh pemain the Foxes.

Satu pemain lagi yang masuk dalam daftar ini tak mengejutkan lagi, tak lain dan tak bukan adalah sang bek tersubur sepanjang masa Premier League, yaitu kapten tersukses Chelsea yang telah mengemas 67 gol untuk klub – John Terry.

Yang pertama tercipta dalam perjalanan kami merengkuh trofi juara Premier League pertama kami, di musim 2004/05, dan saat melawan Charlton Athletic, yang merupakan tim yang menjadi lawannya saat pertama kali mengapteni Chelsea tiga tahun sebelumnya.

The Addicts memang merusak hari besarnya itu dengan kemenangan 1-0, namun tak ada yang bisa menghentikannya dan Chelsea di The Valley, ketika sang kapten menyambut tendangan sudut Damien Duff dengan sebuah tandukan keras, kemudian menyelesaikan kemelut di depan gawang – yang lagi-lagi tercipta berkat eksekusi bola mati si pemain sayap asal Irlandia – dalam kemenangan 4-0 yang membuat kami unggul lima poin di puncak klasemen.

Brace Terry berikutnya juga membuahkan kemenangan, dalam laga tandang derbi London, kali ini di Craven Cottage, pada April 2013.

Gol-gol itupun tercipta dengan cara yang familiar, sepak pojok dari sisi kiri, meski kali ini berasal dari Juan Mata. Gol pertama tercipta lewat kepalanya, yang tak mampu dihentikan oleh kiper yang nantinya membela Chelsea, Mark Schwarzer. Sementara, gol keduanya berasal dari jarak dekat dengan memanfaatkan umpan sundulan Fernando Torres.

Kami yakin Rudiger tidak akan menolak jika kebiasaannya mencetak gol terulang lagi dan lagi.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA