Indonesia

Master Jedi & Padawan: Edisi Chelsea

Hari ini merupakan Star Wars Day dan banyak dari kita yang masih dalam karantina, layaknya Han Solo dalam karbonit. May the 4th adalah harinya para pecinta Jedi, Sith, the Skywalkers, the resistance, juga komplotannya untuk bersatu dan merayakan segala hal yang ada di galaksi nun jauh di sana. Untuk merayakannya, kami akan melihat kembali kiprah semua Master Jedi kami (Manajer) dan para Padawan (Pemain) dalam beberapa tahun terakhir.

Gianluca Vialli dan John Terry

Legenda Italia itu mengabdi selama lebih dari empat tahun di Chelsea, sebagai pemain dan manajer. Dialah sosok di balik debut Terry kala hadapi Aston Villa di Piala Liga Inggris, pada 1998 silam, sebelum dipinjamkan ke Nottingham Forest untuk dapatkan pengalaman.

Fans Chelsea jelas wajib berterima kasih pada keputusan krusial Vialli tersebut. Baru-baru ini Terry mengungkap bahwa Chelsea sebenarnya sudah menerima tawaran dari Huddersfield sebelum dia naik ke tim utama the Blues. Namun transfer urung terjadi karena penolakan Vialli. Sang bek kemudian jadi salah satu legenda terbesar klub.

Claudio Ranieri dan Frank Lampard

Claudio Ranieri memboyong Frank Lampard ke Chelsea pada 2001, lewat biaya £14 juta. Itu terjadi sebelum era Roman Abramovich, yang kemudian jadi dinasti legendaris. Tidak diragukan, inilah salah satu investasi terbaik dalam sejarah klub.

“Saya berutang banyak padanya. Jika bukan karena Claudio, saya takkan mungkin punya karier seperti ini. Saya ingat sekali ketika datang ke rumahnya dan mengikat kontrak dengan Chelsea. Dia menemui saya dan mengatakan bagaimana dirinya bakal meningkatkan kemampuan saya, juga bagaimana saya layak untuk Chelsea. Dia sangat membantu saya berkembang, terutama ketika bertahan. Saya mencintainya,” tutur Lampard untuk Master Jedi-nya.

Jose Mourinho dan Joe Cole

“Cinta yang keras”. Mungkin itulah definisi terbaik untuk mendeskripsikan hubungan antara Joe Cole dan Jose Mourinho. Sang Portugis tak pernah segan mengkritik performa sang bintang Inggris di depan publik, yang ketika itu, dinilai bisa jadi isu besar di ruang ganti.

Meski begitu, kerasnya cinta Mourinho tampak berhasil. Cole menjelma jadi pemain kunci yang krusial dalam hadirnya tiga gelar Premier League Chelsea, dalam rentang 2003 hingga 2010.

“Mourinho membuat saya jadi pemain yang jauh lebih baik. Momen bersamanya merupakan versi terbaik saya untuk Chelsea,” ungkap Cole.

Antonio Conte dan Victor Moses

Penyerang penuh talenta yang angin-anginan, Victor Moses, hadapi kesulitan tinggi untuk menembus sebelas awal sejak bergabung dengan Chelsea pada 2013. Peminjaman ke West Ham dan Stoke bahkan terjadi, sebelum manajer baru yang punya visi berbeda mengubah nasibnya.

Bersama Antonio Conte, Moses menjelma jadi bagian integral Chelsea. Segalanya dimulai usai sang juru taktik Italia mengubah formasi menjadi 3-4-2-1, usai dibantai Arsenal 3-0. Skema anyar tersebut menyertakan Moses sebagai bek sayap kanan. Sejak saat itu, pemain asal Nigeria tersebut tak tergantikan dan jadi alasan kuat keberhasilan the Blues juarai Premier League. Keduanya kini bekerja sama di Inter.

Frank Lampard dan Mason Mount

Dari seorang padawan kemudian menjadi Master Jedi! Frank Lampard dahulu merupakan pemain penting yang jadi pujaan di Bridge. Musim ini, dirinya menangani Chelsea dari kursi manajer dan memberikan ruang yang lebar pada para bibit muda. Mason Mount adalah salah satu bibit muda terbaik di bawah asuhan Lampard.

Musim lalu keduanya bahu membahu di Derby County, sebelum kembali ke Stamford Bridge musim ini. Mount sudah bermain sebanyak 29 kali di liga, lewat koleksi enam gol dan lima assist.

May the 4th be with you!

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA