Sejarah

Drama Pertandingan Terakhir Chelsea

Hari terakhir liga selalu memunculkan drama, dan itu semua akan muncul lagi pada akhir pekan ini. Kami melihat kembali pada beberapa kesempatan sebelumnya yang pernah dialami Chelsea, tentu saja dengan tujuan yang berbeda saat itu…

Skuat the Blues akan menjamu Wolves di Stamford Bridge hari ini, dengan hanya cukup satu poin saja untuk memastikan satu tempat di Liga Champions musim depan. Kemenangan Manchester United di Leicester juga akan mengamankan kita di posisi keempat, tetapi jelas semua perubahan posisi klasemen tak dapat diprediksi, seperti beberapa drama dari laga terakhir kami sebelumnya... 

2012/13

Ketika kami menjamu Everton pada hari terakhir Premier League musim 2012/13, kami sedang ada di posisi terakhir untuk lolos otomatis ke Liga Champions, yang berarti kami perlu mempertahankan keunggulan satu poin kami atas Arsenal untuk bertahan di posisi ketiga dan menghindari jalur kualifikasi. Dengan 15 menit tersisa, segalanya tidak terlihat baik, ketika Arsenal memimpin dan kami ditahan imbang 1-1 oleh the Toffees, Fernando Torres melakukan tendangan voli untuk memberi kami kemenangan 2-1 yang kami butuhkan untuk finis ketiga saat masih ditangani Rafa Benitez yang saat itu juga memimpin pertandingan terakhir sebagai manajer Chelsea.


2009/10

Hanya satu poin yang memisahkan Chelsea dan Manchester United di puncak klasemen pada hari terakhir Premier League musim 2009/10, dengan the Blues duduk di peringkat pertama saat itu. Namun keunggulan itu tetap bertahan sampai laga terakhir selesai berkat kemenangan terbesar kami di liga, sebuah penampilan yang memecahkan rekor, saat kami mengalahkan Wigan Athletic 8-0 di Stamford Bridge. Parade gol terjadi hari itu, termasuk hat-trick dari Didier Drogba, yang memastikan ia meraih Sepatu Emas mengalahkan Wayne Rooney.


2002/03

Ini menjadi salah satu pertandingan paling penting dalam sejarah Chelsea, karena kemenangan 2-1 atas Liverpool ini memastikan kita dan bukan Reds yang lolos ke Liga Champions untuk musim 2003/04, sebuah hal yang langka untuk the Blues saat itu. Dan pertandingan ini membuat Roman Abramovich yakin bahwa Chelsea adalah klub yang tepat untuknya, karena ia menjadi pemilik kami setelah musim panas itu dan kami terus berkembang. Jesper Gronkjaer mencetak gol kemenangan lewat sepakan melengkungnya, tetapi sebenarnya Marcel Desailly adalah pemain yang layak diberikan lebih banyak pujian saat ia berhasil menyamakan kedudukan, karena kami hanya perlu menghindari kekalahan untuk mengakhiri musim di atas Liverpool saat itu.


2000/01

Pada akhir musim yang dirusak oleh performa yang tidak konsisten sepanjang musim, Chelsea melakukan perjalanan ke Manchester City yang sudah pasti terdegradasi dan kami mengetahui jika kami menghindari kekalahan maka kami akan mengamankan tempat keenam yaitu jatah untuk mengikuti Piala UEFA untuk 2001/02. Jika kami kalah di Maine Road, Sunderland bisa melompati kami dengan kemenangan di Everton.

Pada akhirnya skuat the Black Cats hanya bisa imbang (di Everton) setelah tertinggal dua kali. Di sisi lain, anak asuh Claudio Ranieri sukses menyelesaikan misinya dengan kemenangan. Setelah gol pembuka Dennis Wise berhasil dibalas lawan, sang pemenang Sepatu Emas Jimmy Floyd Hasselbaink menceploskan gol ke-23nya di liga untuk memastikan kemenangan 2-1. Setelahnya, petualangan kami di kompetisi Eropa di musim selanjutnya berakhir mengecewakan karena menelan kekalahan memalukan dari tim Norwegia, Viking Stavanger.


1983/84

Di bawah arahan John Neal, tim Chelsea yang bermain di Divisi II pada 1983/84, memastikan promosi dengan kemenangan 5-0 atas Leeds di Stamford Bridge dengan hat-trick sempurna dari Kerry Dixon.

Tiga pertandingan masih tersisa, dan dengan Sheffield Wednesday unggul lima poin dari kami, sepertinya kami akan naik di tempat kedua. Namun, mereka mendapat satu poin dari dua pertandingan berikutnya, sementara kami mengalahkan Manchester City dan Barnsley untuk unggul dari the Owls karena selisih gol. Lebih dari 10.000 penggemar Chelsea melakukan perjalanan ke utara untuk pertandingan terakhir kami, di Grimsby, dan bukan untuk pertama kalinya Dixon menjadi penentu dan ia mencetak satu-satunya gol saat itu. Selisih gol superior kami membuat the Blues dinobatkan sebagai juara Divisi Dua saat itu.


1962/63

Tim muda arahan Tommy Docherty menatap laga terakhir di Divisi II di musim itu, di kandang Portsmouth. Satu kemenangan akan mengamankan jatah promosi kembali ke kompetisi tertinggi dan bersaing dengan Sunderland, yang telah menyelesaikan laga mereka saat itu. Saat itu, sempat ada jeda untuk laga Chelsea karena cuaca buruk tetapi kemenangan di Roker Park di pertandingan kedua terakhir kami membuat kesempatan promosi ada di tangan kita sendiri.

Sebanyak 54.000 penonton yang memadati Stamford Bridge punya harapan besar saat itu, dan semua kegelisahan berhasil diselesaikan oleh gol Derek Kevan di menit kedua. Setelah itu, Portsmouth kalang kabut dan kami menambah gol lewat Frank Blunstone, Terry Venables dan empat gol dari Bobby Tambling, yang menjadikan total golnya 37 untuk musim ini, dan membuat kami menang 7-0. Pada masa itu, rata-rata gol digunakan untuk membedakan tim jika memiliki poin yang sama, seperti kami dan Sunderland (sama-sama 52 poin), dan kami sukses dipromosikan dengan rataan 0,401 gol saat itu.


1952/53

Ted Drake menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Chelsea, tetapi musim pertamanya sebagai manajer tidak berjalan dengan baik. Meskipun ia seorang modernisator di klub dan seorang operator yang cerdik di pasar transfer, perubahan dari eks striker Inggris ini membutuhkan waktu untuk memiliki dampak dan saat itu timnya menatap Natal tahun 1952 tanpa mengambil satu poin pun. Mungkin merupakan berkah bagi pendukungnya bahwa kabut musim dingin pada zaman itu membuat beberapa pertandingan sulit diikuti dari tribun Stamford Bridge.

Kemudian, kami mencapai hari terakhir musim ini dengan mengetahui bahwa kemenangan di Stamford Bridge akan membuat kami selamat dari degradasi (seperti halnya dua tahun sebelumnya). Manchester City adalah lawannya. Kami terlalu banyak membuang peluang saat itu. Anak asuh Drake seharusnya unggul 4-0, sampai akhirnya, Johnny Harris melakukan tendangan penalti. Setelahnya, kami langsung unggul 2-0, ketika penyerang tengah Jim Lewis menaklukkan Bert Trautmann dari jarak dekat ke area penalti. Namun demikian, kecemasan muncul lagi ketika City mencetak gol mereka di babak pertama. Setelahnya, pemain sayap Eric Parsons, mulai menunjukkan kualitas dan harga dari transfer mahalnya setelah awal musim yang kurang baik di Chelsea. Ia sukses memberi umpan Johnny McNichol yang mencetak gol untuk menjadikannya 3-1 di babak kedua dan setelahnya publik Stamford Bridge bisa mulai bersantai pasca unggul.

Itu adalah performa terbaik Chelsea untuk musim itu. Tak lama, sembilan pemain yang ikut andil mengalahkan City menjadi andalan tim kami saat memenangkan gelar liga pertama hanya dua tahun setelahnya.


1950/51

Meskipun kehadiran pemain hebat Roy Bentley saat awal karirnya di Chelsea, tim Chelsea 1950/51 di bawah manajemen Billy Birrell menjalani musim yang sulit. Tersingkir oleh Arsenal di semifinal Piala FA menjadi hal yang disayangkan saat itu, dan penampilan kami terus merosot dengan empat pertandingan tersisa, kami berada di dasar klasemen, empat poin di belakang Sheffield Wednesday dan enam di belakang Everton, keduanya tim tepat di atas kami, dan ini masih zaman dengan hanya dua poin saja dari setiap kemenangan. Saat itu, kami tanpa kemenangan untuk 14 pertandingan sebelumnya. Melihat kondisi ini, tampaknya nasib kami di kompetisi teratas selama dua dekade akan segera berakhir.

Namun entah bagaimana kami berhasil mengalahkan Liverpool dan Wolves, dengan keberuntungan ada di jalan kami, dan kemudian dalam pertandingan tandang di Fulham, tetangga kami kehilangan begitu banyak peluang yang membuat para penggemar Chelsea menyanyikan 'Dear Old Pal'. Kemenangan ketiga berturut-turut itu berarti ada peluang untuk tetap terjaga di papan atas ketika Stamford Bridge menjamu Bolton di hari terakhir kompetisi. Sekitar 40 ribu penggemar yang penuh harapan hadir di Stamford Bridge dan banyak bersorak karena dua sundulan Bentley dan dua gol dari bintang baru Bobby Smith. Meskipun menang 4-0, ada cemas menunggu skor dari hasil pertandingan lain. Sheffield Wednesday dan Everton saling berhadapan. Tim asal  Yorkshire menang 6-0 dan kami, mereka serta the Toffees semuanya menyelesaikan musim dengan 32 poin. Hanya dua klub yang terdegradasi saat itu dan perhitungan bukan dari selisih gol, melainkan perhitungan rata-rata gol yang digunakan. Meskipun mereka menang lebih besar, Sheffield Wednesday akhirnya terdegradasi dengan Everton. Chelsea telah lolos dari lubang jarum dengan hanya rataan 0,044 gol! Benar-benar margin tipis saat itu.

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA