Sejarah

Mengenang Pertandingan Pertama Chelsea di Munich

Akan selalu ada kesempatan untuk kalian mencari tahun mengenai dua laga kita sebelumnya di Munich, khususnya satu laga final pada 2012 silam. Namun bagaimana jika membahas kunjungan pertama kami ke ibukota Bavaria, lebih dari 50 tahun yang lalu?

Lawan kami bukanlah Bayern saat itu, yang memang sudah membuktikan diri sebagai tim Jerman yang paling sukses, atau memang yang terbaik di kota. Lawannya adalah TSV 1860 Munich yang berhadapan dengan kubu Chelsea arahan Tommy Docherty di perempat final Piala Inter-Cities Fairs pada tahun 1966.

Laga dua leg akhirnya kami jalan di keikutsertaan pertama kami di kompetisi Eropa, pada saat itu ada banyak antusiasme tentang sepakbola di Inggris secara umum, dan banyak minat juga dari luar negeri. Negara kami saat itu akan mementaskan Piala Dunia yang berjarak hanya beberapa bulan lagi saat itu.

Kompetisi Piala Fairs, yang memang tidak diorganisir oleh UEFA, umumnya dianggap sebagai cikal bakal Piala UEFA / Liga Europa dan memiliki persyaratan kualifikasi untuk ikut ajang ini. Kami berpartisipasi sebagai pemenang Piala Liga 1965.

Sisi muda Chelsea saat itu sukses menaklukkan Roma dan AC Milan ketika kami sukses melakukan perjalanan ke Jerman Barat, dan baru saja memenangkan laga melawan Manchester United 2-0 di depan 60.000 suporter yang hadir di Stamford Bridge. London sedang menikmati awal musim semi, tetapi para pemain mendarat di Munich pada suhu yang sangat dingin dan saat salju turun .

‘Kondisi dingin hanya dihangatkan oleh sorak-sorai penonton yang terus-menerus dari para pendukung mereka, yang, sepanjang pertandingan memberikan segalanya di stadion yang terisi oleh sekitar 12.000 penonton, Chelsea butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan kondisi,’ lapor surat kabar The Times. .

Skuat the Blues saat itu tampil dengan rata-rata 23 tahun sempat tertinggal lebih dahulu oleh Wilfried Kohlars, 'pemain wing-half dengan bakat yang bagus saat menyerang', pada menit ke-18. Chelsea sempat kesulitan dan akhirnya samakan kedudukan, dengan kredit diberikan balik kepada pergerakan Barry Bridges yang cepat, yang mengubah pertahanan menjadi serangan dan sukses mengarahkan ke ruang kosong untuk Terry Venables. Tembakannya berhasil memang sempat dihalau tepat di garis gawang namun sang pemburu gol, Bobby Tambling sukses jebol gawang lawan lewat bola liar tersebut.

Itu 10 menit sebelum jeda, dan 10 menit setelahnya Chelsea sukses unggul. George Graham sukses menyambut umpan Peter Bonetti dan akhirnya diselesaikan oleh Tambling dengan penuh percaya diri.

Dengan seperempat jam tersisa, tim 1860 Munich sukses samakan kedudukan, Friedhelm Konietzka memanfaatkan kesalahan dari John Hollins. Skor 2-2 jadi penutup laga, dengan Chelsea dianggap 'sudah cukup untuk memastikan diri mereka mendapat tempat di empat besar', menurut The Times saat itu. Mereka tidak salah, kemudian gol Peter Osgood dua minggu kemudian di leg kedua mengamankan satu tempat semifinal. Disanalah persaingan besar kita dengan Barcelona akan dimulai, pertandingan epik yang membutuhkan play-off sebelum kubu asal Catalan akhirnya menang dan lolos ke final.

Hasil di Munich dipandang sebagai kesuksesan besar, dan layak untuk dirayakan pasca-pertandingan dan Bobby Tambling mengingat dengan baik momen dalam otobiografinya. Tidak mengherankan jika sang pahlawan leg kedua, Osgood, sangat terlibat saat itu!

‘Pertandingan saat itu (di Munich) dimainkan di atas salju dan kami pikir laga ini akan batal dilakukan,’ ungkap sang pencetak gol terbanyak kedua sepanjang masa Chelsea tersebut.

‘Mereka adalah tim yang bagus yang sedang dalam perjalanan untuk memenangkan gelar Bundesliga musim itu, dan mereka memiliki penjaga gawang yang brilian, Petar Radenkovic (pemain internasional Yugoslavia). Untuk pergi ke sana dan mendapatkan hasil imbang 2-2 adalah kinerja yang luar biasa. Penjagaan dari lini bertahan mereka begitu kuat, hampir untuk semua pemain ada di wilayah sendiri, jadi kami benar-benar senang bisa pulang dengan hasil imbang itu.’

‘Ketika kami kembali ke hotel, mereka menyisihkan kamar pribadi untuk kami di belakang dan juga untuk para jurnalis, yang biasanya akan tinggal di tempat yang sama dengan kami, berada di bagian utama restoran saat itu,’ lanjut Tambling.

‘Doc sangat mabuk saat itu, seperti kita semua, dan dia terus memesan lebih banyak botol sampanye untuk semua pemain. Para pelayan harus berjalan melewati semua reporter untuk membawa botol tersebut kepada kami, dan di antara para pers pers ada seorang pemuda yang bukan koresponden sepakbola. Namanya Laurie Pignon dan dia memiliki kolom 'Opignon' sendiri di sebuah tabloid yang disebut the Daily Sketch. Dia adalah seorang reporter tenis dan dia benar-benar sangat mewah, tetapi seorang pria yang baik.’

‘Setelah mereka membawa botol yang kesekian kalinya kepada kami, Laurie menjulurkan kepalanya ke pintu dan berteriak," Hai Ossie, apa mungkin botol sampanye itu diberikan pada kami semua, bung!"

'Tidak masalah, sobat - beri aku waktu sebentar dan aku akan membawakannya untukmu,' jawab Os.

‘Di depan Ossie adalah botol yang sekitar seperempat penuh, kalau itu. Saat sampai di tempat para pers di restoran utama, sudah tiga perempat penuh, namun itu belum terisi penuh dengan sampanye. Beberapa saat kemudian, Laurie datang menerobos pintu. "Hei, Ossie, apa kau ingin urin mu diuji?!’

Bagi TSV Munich, kesuksesan memenangkan Bundesliga pada tahun 1966 jadi bukti nilai tinggi dalam sejarah mereka. Memang, mereka belum memenangkan lagi kompetisi Bundesliga sejak itu, tidak seperti rival sekota mereka yang telah melakukannya 29 kali. Sempat berbagi markas utama di stadion Allianz Arena dengan Bayern selama beberapa tahun setelah dibuka pada tahun 2006, mereka sekarang kembali di Stadion Gruenwalder yang mereka pakai saat menjamu Chelsea di masa lalu, dan mereka kini bersaing di kasta ketiga sepakbola Jerman.

Sementara itu, eksploitasi Chelsea di Eropa baru saja dimulai ...

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA