Kolumnis

Henry Winter Mengevaluasi Musim Pertama Chelsea Di Bawah Frank Lampard

Henry Winter adalah pemimpi penulis sepakbola untuk harian The Times dan di sini, di kolom eksklusif untuk situs web resmi Chelsea, sang jurnalis melihat kembali musim 2019/20 sekaligus mengevaluasi masa jabatan pertama Frank Lampard sebagai bos di kompetisi Premier League...

Orang-orang sering bertanya mengapa media sangat menghormati Frank Lampard. Jadi begini. Ini lebih dari sekadar prestasinya sebagai pemain, musim Premier League yang gemilang selama bermain, dan kemenangan di Liga Champions, yang kami cukup nikmati saat itu. Ini lebih dari sekadar humornya, dan fakta bahwa setiap percakapan dengan Lampard disertai dengan anekdot dan mempunyai wawasan yang cerdas serta luar biasa.

Ini lebih dari sekadar kekaguman terhadap pesepakbola yang benar-benar memanfaatkan semua bakatnya melalui dedikasinya, tahun-tahun yang dihabiskannya sebagai seorang remaja di jalanan Romford untuk memperkuat fisiknya atau keputusan untuk membeli sepatu pul untuk melatih sprintnya. Ini lebih dari sekadar kenangan akan 29 gol dalam 106 pertandingan untuk Inggris, dan penilaian jujurnya setelah turnamen Piala Dunia yang membuat frustrasi Inggris saat itu.

Ini lebih dari sekadar keinginan untuk melihat seseorang yang mengabdikan dirinya kepada sepakbola dengan sangat baik, di level klub dan internasional, dan sekarang ia mulai berhasil di level kepelatihan dan manajemen. Musim pertamanya di Chelsea telah diterima dengan baik karena banyaknya menyertakan pemain muda, gaya bermain yang menarik dan sukses lolos ke Liga Champions.

Ini lebih dari semuanya dan tidak diragukan lagi semuanya sangat mengesankan. Para jurnalis juga menghormati pria 42 tahun itu karena substansinya sebagai seorang pria, serta manajer yang memiliki dorongan dan bakat yang jelas dan sebagai seorang gelandang yang menghiasi permainan selama dua dekade terakhir di sepakbola

Karakter Lampard memang selalu bersinar. Menengok kembali ke tahun 2005 silam, ia adalah pemuda yang bersemangat dan punya kemauan kuat untuk ikut mendorong misi Chelsea demi mendapatkan gelar pertama dalam 50 tahun. Saat itu, seorang penggemar Chelsea berusia 10 tahun bernama Lucy, dia telah didiagnosis dengan penyakit tumor otak, dan bertekad untuk melihat Chelsea memenangkan liga. Dia menunjukkan keberanian untuk bertahan, karena dia ingin menyaksikan pemain favoritnya, pria berkostum nomor 8, dinobatkan sebagai juara.

Saat itu Lampard langsung mencari Lucy, memeluknya dan berterima kasih atas dukungannya. Bahkan di momen spesial untuknya, Lampard masih memikirkan orang lain. Ketika Lucy meninggal dunia tak lama kemudian, Lampard memastikan dirinya hadir pada pemakamannya di Kent. Dia peduli pada orang lain, memperlakukan mereka dengan hormat. Dia dibesarkan dengan prinsip yang baik oleh orang tua dan kakek tercintanya, Poppa Bill.

Pada malam pemakaman Lucy, Lampard dijadwalkan untuk mengambil trofi Pemain Terbaik Tahun itu dari Asosiasi Penulis Sepakbola pada sebuah acara makan malam di London. Dia telah bermain sangat baik musim itu dan ia bersaing dengan John Terry untuk penghargaan individu tersebut.

Terry menerima gelar PFA (asosiasi pemain), dan di sisi lain para penulis memilih Lampard. Panggung telah disiapkan yaitu Royal Lancaster Hotel di dekat Stamford Bridge, dan semua orang menunggu tamu kehormatan saat itu. Saat itu, waktu terhitung mepet namun Lampard berhasil sampai tepat waktu sepulang dari pemakaman di Kent tersebut.

Ruangan itu penuh, dan tidak setiap pemain merasa mudah untuk berbicara tentang diri mereka sendiri di depan banyak orang, termasuk begitu banyak manajer dan pemain, baik dari dulu dan sekarang. Tapi kata-kata selalu datang selalu mudah diucapkan oleh Lampard dengan tegas sekaligus berterima kasih kepada mereka yang membantunya dalam perjalanan ke puncak.

Lampard kemudian berhenti dan berkata, 'Saya ingin berbicara tentang seorang gadis bernama Lucy. Saya pergi ke pemakamannya hari ini. Dia berumur 10 tahun. Dia datang ke pertandingan melawan Charlton dimana kami mengangkat trofi Liga. Dia memiliki tumor di otak, sebenarnya dia seharusnya meninggal seminggu sebelum pertandingan itu. Tapi dia sangat ingin datang dan melihat pertandingan itu, untuk melihat kami bermain. Karakter dan kekuatan yang dia tunjukkan membuat saya menempatkan segalanya dalam perspektif. '

Lampard mendedikasikan penghargaan Pemain Terbaik Tahun Ini untuknya dan menambahkan kata-kata yang lebih menghibur untuk keluarganya. Di saat momen pribadinya menerima penghargaan yang luar biasa dengan segala sorotan kepadanya, Lampard masih memikirkan orang lain. Kelas. Dia menerima tepuk tangan meriah saat itu.

Jadi ketika kemudian Lampard memutuskan untuk turun di dunia manajemen dan kepelatihan, reaksi media secara naluriah adalah berharap dia sukses dengan pilihannya tersebut. Saya jarang meliput konferensi pers manajer yang baru melakukan debutnya, tetapi saya memastikan bahwa saya hadir di Derby County pada 31 Mei 2018, untuk mendengarkan Lampard menjawab semua pertanyaan dengan mahir dan kemudian hadir juga di Chelsea pada 4 Juli 2019, ketika dia berbicara untuk pertama kalinya sebagai pelatih kepala, sekali lagi ia menjawabnya dengan fasih di hadapan media.

Dia menunjukkan karakternya yang positif dan ambisius. Ditanya tentang kepergian Eden Hazard ke Real Madrid, Lampard memuji 'pemain hebat' tetapi fokus pada peluang untuk orang lain, 'pemain bagus, di usia yang baik, yang memiliki bakat, namun bukan untuk mengisi kepergian Hazard, tetapi siapa yang bisa menjadi besar pemain untuk klub ini '. Tak satupun dari mereka yang melangkah merasa dibebani dengan perbandingan yang tidak adil (dengan Hazard sebelumnya).

Ini bisa dibilang tahun yang cukup sulit, tapi janji yang luar biasa sejak itu telah membuktikan keyakinan Lampard kepada mereka (pemain muda). Operan dan pergerakan Mason Mount sangat luar biasa, dengan mencetak tujuh gol dan lima assist dalam 37 penampilan di Premier League, hampir semua pertandingan ia menjadi starter kecuali di lima laga. Christian Pulisic menanggapi metode kepelatihan Lampard, dengan mencetak gol sembilan kali dan membuat empat assist dalam 25 pertandingan Premier League musim lalu.

Pria Amerika itu semakin percaya diri dan Lampard pantas mendapat bagian dari pujian untuk itu. Baik Mount dan Pulisic baru berusia 21 tahun dan merupakan masa depan Chelsea. Begitu juga dengan Tammy Abraham yang berusia 22 tahun, yang sukses membayar kepercayaan Lampard dengan mencetak 15 gol, dan membuat tiga assist, dalam 34 pertandingan Premier League. Beberapa pemain tampil solid di bawah Lampard seperti Mateo Kovacic, pengaruhnya (Lampard) di Cobham serta Stamford Bridge sudah sangat jelas.

Ada beberapa momen spesial, kemenangan melawan Ajax, Arsenal, dan Manchester City, dan kemenangan kandang dan tandang atas Spurs, serta perjalanan ke final Piala FA, mengalahkan Liverpool dan Manchester United dalam perjalanannya mencapai final. Mengamankan satu jatah Liga Champions pun terhitung bagus. Untuk menempatkan pencapaian itu ke dalam perspektif, setahun yang lalu hanya enam dari 24 mantan pemain yang disurvei oleh BBC mengira Chelsea akan finis di empat besar (22 dari 24 percaya Spurs di empat besar dan 14 dari 22 lebih memilih Arsenal).

Ketika ia diberikan ucapan selamat karena finis keempat, Lampard menjawab, 'Ini Chelsea. Kami harus bersaing memperebutkan gelar. ' Dia benar. Dia bisa melihat jarak antara City dan Liverpool, berbicara tentang meningkatkan pertahanan karena kebobolan 54 gol yang mana catatan ini jelas tak dapat diterima begitu saja. Namun, Lampard sudah menunjukkan dirinya menjadi penentu, kehilangan pemain kunci setelah penampilan di bawah standar.

Chelsea sendiri sangat rentan terhadap tim yang melakukan serangan balik dengan tajam, dan juga perlu bekerja keras untuk menghadapi ancaman lawan dari bola mati. Lampard jelas tahu dengan semua masalah ini. Tidak ada agenda dengannya, seperti yang sering terjadi dengan manajer. Frank Lampard hanya ingin menang untuk klub yang dicintainya.


Jangan lewatkan boxset eksklusif yang akan hadir di aplikasi the 5th Stand pekan depan yang akan membicarakan cerita di balik musim pertama Lampard di Chelsea sebagai manajer

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA