Sejarah

Dari Stamford Bridge ke Brighton

Chelsea dan Brighton & Hove Albion mungkin hanya bertemu 14 kali dalam pertandingan kompetitif, tetapi semuanya tidak berhenti di situ, ada banyak sejarah terjadi antara dua klub yang jarang berada di divisi yang sama ini.

Kami melakukan perjalanan ke Amex Stadium untuk kedua kalinya dalam tempo kurang dari dua minggu, setelah memainkan pertandingan pra-musim terakhir kami di sana - dan kali ini taruhannya jauh lebih tinggi, saat kami membuka musim Liga Premier melawan the Seagulls.

Sembilan kemenangan kami dari sembilan pertemuan melawan Brighton, yang mana pada pertemuan terakhir antara kedua tim terjadi pada Hari Tahun Baru.

Kedua tim telah berbagi banyak pemain selama bertahun-tahun, banyak di antaranya memiliki peran besar ketika bermain di Bridge. Bahkan kembali ke musim pertama kami memenangkan gelar, pada tahun 1954/55, dua anggota skuad itu, Johnny McNichol dan Stan Willemse, keduanya bergabung dengan kami dari Brighton. Wayne Bridge (foto di atas), pemenang Liga Premier 50 tahun kemudian bersama the Blues, juga pernah bermain sebagai Seagull.

Era Delapan puluhan mungkin menjadi periode paling produktif antara kedua tim, terutama ketika bek, Gary Chivers yang belakangan ini lebih dikenal sebagai host pertandingan di Stamford Bridge lebih dari 30 tahun sejak ia memanggil stadion kita sebagai rumah keduanya setelah berkembang bersama the Blues. Dia juga bermain di lebih dari 200 pertandingan untuk Seagulls.

Tiga bek kiri sepanjang 1980-an melakukan langkah yang sama. Chris Hutchings, yang akan diingat oleh banyak orang sebagai manajer Liga Premier bersama Bradford dan Wigan Athletic, bermain dalam pertemuan liga pertama kami dengan Brighton, pada awal 1983/84, sebelum pindah ke Goldstone Ground dan mewakili Seagulls di pertandingan selanjutnya. Doug Rougvie dan Keith Dublin, keduanya meninggalkan Chelsea untuk pindah ke Brighton di akhir dekade ini.

Colin Pates menjadi kapten trio itu selama karir panjangnya di Chelsea dan dia menikmati kejayaan dengan mengangkat trofi untuk the Blues saat kami dinobatkan sebagai juara Divisi Dua pada 1984 dan kemudian dua tahun kemudian di Full Members Cup, saat kami mengalahkan Manchester City 5-4 di salah satu final yang paling menegangkan sepanjang masa di Wembley. Dia kemudian menghabiskan waktu bersama Brighton, dengan sempat bermain bersama Arsenal kala itu.

Namun, kesuksesan yang dinikmati oleh Pates dan kawan-kawan tidak akan mungkin terjadi jika bukan karena Clive Walker, yang mencetak gol terkenal melawan Bolton pada tahun 1983 untuk membantu kami terbebas dari degradasi ke Divisi Tiga untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pemain sayap kilat, yang juga menjadi bintang kemenangan Piala FA yang menakjubkan atas juara Eropa Liverpool, mencetak 65 gol secara keseluruhan untuk the Blues dan juga menghabiskan waktu sebagai pemain Brighton dalam karirnya yang panjang.

Kehadiran pemain favorit tahun delapan puluhan lainnya, Mickey Thomas, dalam daftar ini seharusnya tidak mengejutkan. Bagaimanapun, dia bermain tidak kurang dari sembilan klub Inggris yang berbeda selama 1980-an, dan waktu singkatnya di Bridge membuatnya mengamankan status cult-hero saat dia membantu kami untuk promosi pada 1984.

Juga selama era ini, Dale Jasper, yang sayangnya meninggal awal tahun ini, terlihat sebagai pemain yang menjanjikan di Chelsea pada pertengahan 1980-an dan setelah sukses di tim junior dan tim cadangan kami, dia melakukan debutnya dengan luar biasa. Hasil imbang 3-3 dengan Cardiff City saat the Blues bangkit dari ketertinggalan 3-0 di pertanidngan penutup. Namun, peluang terbukti sulit dia dapat dan dia kemudian tampil di lebih dari 50 pertandingan untuk Brighton.

Beberapa penjaga gawang juga mewakili kedua klub. John Phillips, pengganti jangka panjang Peter Bonetti selama tahun delapan puluhan, juga pernah bermain untuk Seagulls, sementara Dave Beasant, yang membantu Chelsea untuk promosi pada tahun 1989, memainkan pertandingan terakhir dari karir panjangnya dalam sepakbola profesional saat di Brighton di 2003 pada usia 44 tahun.

Harry Medhurst bergabung dengan Brighton setelah bermain sebagai penjaga gawang Blues pasca Perang Dunia Kedua, meskipun sebagian besar orang akan mengingatnya untuk masa jabatannya yang lama sebagai fisio kita selama era Kings of the King’s Road yang terkenal di tahun 1970-an.

Gustavo Poyet adalah manajer Brighton setelah memenangkan trofi untuk Chelsea; Dave Sexton bermain untuk klub Pantai Selatan itu sebelum memenangkan trofi selama menjadi manajer the Blues. Itulah dua sosok yang cukup signifikan dalam sejarah kedua klub.

Piala yang menghubungkan mereka adalah Piala FA, di mana kedua pemain tersebut akan mempertahankan tempat istimewanya dalam cerita rakyat Blues. Sexton, tentu saja, adalah manajer kami ketika kami memenangkan kompetisi untuk pertama kalinya pada tahun 1970, mengalahkan rekannya di Leeds United di salah satu final paling terkenal sepanjang masa.

Kemudian, tiga dekade kemudian, Poyet menjadi pencetak gol terbanyak kami di Piala FA saat kami menang di final terakhir yang diadakan di Stadion Wembley lama. Pundi-pundi golnya termasuk dua gol dalam kemenangan semifinal atas Newcastle United, serta hat-trick dalam kemenangan putaran ketiga di Hull.

Banyak pemain muda Chelsea yang pindah ke Pantai Selatan. Barry Bridges dan Bert Murray, dua anggota Diamonds terkenal di era Tommy Docherty yang kemudian bergabung dengan Brighton.

Belakangan ini, Liam Bridcutt memenangkan penghargaan Pemain Terbaik Brighton, setelah dirinya kesulitan masuk tim utama Chelsea, dan Fikayo Tomori berkembang pesat setelah bermain di Stadion Amex.

Kami telah menyimpan kisah terbaik dari semuanya daftar pemain ini untuk menjadi yang terakhir. Teddy Maybank bermain sebagai striker untuk kedua klub - tapi dia mungkin paling dikenang karena penampilannya sebagai kontestan di Blind Date dan Weakest Link! Anda dapat membaca lebih lanjut tentang itu di sini

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA