Berita

Tuchel Tentang Giroud dan Efek dari Bundesliga bagi Sepakbola Inggris

Tuchel menjelaskan kenapa penyerang Prancis itu patut dicontoh dan bagaimana sepak bola Jerman memengaruhi Liga Premier ...

Tidak ada pemain yang lebih menikmati bermain melawan Southampton daripada Olivier Giroud. Striker ini telah mencetak tujuh gol Liga Premier dalam 12 penampilan melawan The Saints, serta gol di babak semifinal Piala FA di Wembley pada tahun 2018, dan berharap untuk mencatatkan start ketiganya di bawah Thomas Tuchel ketika the Blues mengunjungi St Mary's.

Skema menyerang Chelsea di bawah pelatih Jerman sejauh ini sangat bervariasi, tetapi cenderung menampilkan Giroud atau Tammy Abraham sebagai titik fokus di depan. Nama terakhir bermain terakhir kali melawan Newcastle tetapi harus keluar lapangan karena cedera setelah hanya 20 menit bermain, yang membuat Giroud masuk.

Abraham telah pulih dari cedera di kakinya, meninggalkan Tuchel dengan keputusan sulit, meskipun tidak ada keraguan dalam benak pelatih baru itu tentang apa yang dapat ditawarkan oleh penyerang 34 tahun itu.

'Dia salah satu penyerang terbaik di kotak penalti, kuat secara fisik dan dia memiliki sentuhan pertama yang luar biasa ketika dia mengambil bola langsung dari tendangan voli,' kata Tuchel tentang kemampuan Giroud.

'Dia juga sangat kuat dalam melakukan sundulan dan dia melakukan pertandingan yang luar biasa melawan Newcastle. Dia sangat positif dalam latihan dan saat ini dia memainkan peran kunci dalam skuad di mana kami memiliki banyak penyerang muda.

'Dia adalah sosok kunci, mungkin bukan karena dia bermain 96 menit setiap tiga hari, tetapi dengan sikap dia dan dengan pengalamannya setiap hari. Dia telah memberikan pengaruh besar dengan cara paling positif yang kami harapkan.'

Penyerang Prancis, yang mencatat 15 gol untuk klub dan negaranya musim ini, menandatangani perpanjangan kontrak satu tahun di Stamford Bridge pada bulan Mei lalu yang akan berlangsung hingga akhir musim ini. Meskipun dirinya tidak bersedia untuk mengambil keputusan tentang kontraknya dalam waktu dekat, Tuchel terkesan dengan apa yang dilihatnya dari Giroud sejauh ini.

'Masih terlalu dini untuk membuat keputusan ini dan saya tidak punya cukup waktu untuk membuat keputusan ini karena saya baru memulainya tiga minggu lalu,' jelasnya.

'Kami membutuhkan lebih banyak waktu, jadi kenali para pemain dengan lebih baik dan semua orang berhak mendapatkan lebih banyak waktu untuk menunjukkan nilai mereka kepada grup. Yang bisa saya katakan adalah bahwa saya sangat senang dia ada di sini.'

Sementara karir manajerial terakhir Tuchel adalah menghabiskan dua setengah tahun di Prancis bersama Paris Saint-Germain, tetapi di negaranya, pelatih berusia 47 tahun itu pertama kali menjadi pelatih setelah karir pemainnya berakhir karena cedera.

Langkah pertama mantan bek itu dalam dunia manajemen datang di Bundesliga, pertama dengan Mainz dan kemudian sebagai pengganti Jurgen Klopp di Borussia Dortmund, meskipun karirnya sebagai pelatih sebenarnya dimulai pada usia 27 tahun bekerja dengan tim yunior di Stuttgart, peran dia saat itu diberikan oleh Ralf Rangnick.

Seorang tokoh berpengaruh di sepak bola Jerman, Rangnick juga berperan dalam karir kepelatihan awal Julian Nagelsmann dan Ralph Hassenhuttl, bekerja dengan bos Southampton saat ini selama mereka bersama di RB Leipzig. Tuchel memuji rekan senegaranya karena membantu membentuk karirnya tetapi menyarankan setiap anak didiknya harus mengukir karir mereka sendiri.

'Saya adalah seorang pemain bersama Ralf Rangnick di divisi kedua dan ketiga,' kenang Tuchel. 'Dia orang pertama yang memberi tahu saya bahwa tidak perlu mengikuti striker bahkan saat dia pergi ke toilet!

'Di skema empat bek, ini bukan tentang man-marking tetapi mempertahankan ruang dalam formasi 4-4-2 dan 4-5-1 jadi itu tentu saja mengubah permainan bagi saya. Untuk menonton pertandingan sepak bola setelah pengalaman saya dengan Ralf berbeda karena saya memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang apa yang sedang terjadi. Dia membuat tim divisi tiga di Ulm lebih kuat dari sebelumnya, hal itu kami lakukan dengan taktik baru ini.

'Ada banyak pelatih yang terpengaruh dari filosofi semacam ini, tetapi pada akhirnya saya benar-benar percaya bahwa setiap orang harus menemukan gayanya sendiri dan menjadi ciri khasanya. Anda tidak dapat menyalin kemampuan orang lain. Anda harus menjadi diri sendiri.

Hassenhuttl juga memiliki pengaruhnya di Leipzig, di mana Ralf kurang lebih adalah ayah dari segala sesuatu yang terjadi. Perjalanannya sangat mengesankan - dia menjalani musim yang sangat bagus di Ingolstadt, sangat sukses di Leipzig dan sekarang dia memiliki pengaruh besar dengan gaya permainan agresifnya di Southampton. Inilah tantangan yang harus kami hadapi untuk melawan mereka.'

KABAR LAINNYA DARI CHELSEA