Chelsea menghasilkan penampilan luar biasa saat bertandang ke AC Milan di Liga Champions untuk mencatat kemenangan pertama klub di San Siro dalam pertandingan yang dipicu oleh kartu merah babak pertama untuk mantan pemain Blues, Fikayo Tomori, menempatkan Chelsea dalam posisi yang bagus untuk finis di dua besar di Grup E.

Hasil AC Milan vs Chelsea

Laga berakhir 2-0 untuk Chelsea di Italia dan, meski pun tanding lawan 10 pemain kami tidak bisa menyamai skor 3-0 dari pertandingan minggu lalu di Stamford Bridge melawan lawan yang sama, itu adalah kinerja yang sama mengesankannya, jika apalagi, mengingat suasana sengit di dalam stadion tua raksasa itu.

Setelah pembukaan yang cukup seimbang namun berintensitas tinggi, pertandingan menjadi hidup saat kami mendekati 20 menit, ketika dua lulusan Akademi Chelsea yang sekarang berada di pihak yang berlawanan saling berduel. Saat Mount mengejar umpan Reece James di dalam kotak, ia ditarik oleh pemain Milan, Fikayo Tomori, mengakibatkan wasit menunjukkan kartu merah pada mantan pemain Chelsea itu dan memberikan penalti kepada the Blues.

Tidak ada sedikit pun rasa gugup di wajah Jorginho saat ia dengan tenang memasukkan tendangan penalti ke sudut bawah dengan sikap percaya diri yang biasa, dan segalanya menjadi lebih baik bagi Chelsea sejak itu.

Tidak lama setelah kami memimpin, the Blues memanfaatkan ruang yang dihasilkan dari keunggulan jumlah pemain kami, saat pertukaran operan cepat antara Pierre-Emerick Aubameyang, Mateo Kovacic dan Mount menghasilkan umpan cerdas dari Mount ke ruang di dalam kotak, di mana Aubameyang mengakhiri pergerakan dengan tembakan mendatar yang sangat baik ke tiang dekat.

Mount kurang beruntung karena bisa saja menambah keunggulan kami sebelum turun minum, dan ada beberapa peluang bagi kedua tim setelah jeda meski pun lebih dominan Chelsea. Namun, seperti di Stamford Bridge, the Blues menghilangkan kepercayaan diri Milan saat pertandingan berlanjut, membuat penutup yang cukup nyaman untuk malam Liga Champions yang tak terlupakan.

Starting XI

Graham Potter membuat dua perubahan pada timnya dari pertandingan pertama Liga Champions pekan lalu dengan AC Milan. Salah satu dari dua perubahan itu dipaksakan kepadanya oleh cedera yang dialami Wesley Fofana dalam pertandingan itu.

Itu berarti Trevoh Chalobah berbaris bersama Thiago Silva, memainkan pertandingan Liga Champions ke-100 dalam kariernya, dan Kalidou Koulibaly di pertahanan The Blues, di depan kiper Kepa Arrizabalaga.

Tiga penyerang di depan sama seperti minggu lalu, dengan Pierre-Emerick Aubameyang didukung oleh Mason Mount dan Raheem Sterling.

Perubahan lain yang dilakukan Potter terjadi di lini tengah, di mana Jorginho menjadi kapten tim pada penampilannya yang ke-200 untuk Chelsea, berpasangan dengan Mateo Kovacic yang menggantikan Ruben Loftus-Cheek. Reece James dan Ben Chilwell tetap di bek sayap.

Tidak diragukan lagi memang ada tekanan luar biasa saat pertandingan dimulai dalam suasana menderu San Siro yang penuh sesak, dengan para penggemar tuan rumah melakukan yang terbaik untuk mengintimidasi tim tamu, kecuali mantan bek Rossoneri, Thiago Silva yang mendapat sambutan meriah saat namanya diumumkan sebelum kick-off.

Intensitas itu dibawa ke lapangan sejak awal, dengan kedua tim menekan dengan cepat dan saling menyerang demi mendapatkan gol cepat. Butuh lebih dari 10 menit bagi kedua tim untuk menciptakan ritme yang ideal, sebelum bersabar untuk mencari celah masing-masing pertahanan sambil bergantian menguasai bola.

Mount dan Tomori panaskan laga

Pertandingan makin hidup memasuki menit ke-20. Mount berlari ke kotak penalti dari kanan untuk mengejar umpan James, dengan mantan rekan setimnya di Akademi Chelsea Fikayo Tomori mengejarnya. Tomori kalah langkah dari Mount, menariknya dari belakang, dan ketika pemain the Blues itu terjatuh, wasit langsung menunjuk titik putih.

Ada lebih banyak drama ketika wasit memberi Tomori kartu merah untuk mengakhiri reuninya dengan Chelsea di San Siro lebih awal, dan kemudian mengeluarkan kartu kuning lebih lanjut ke Mount dan mantan pemain Biru lainnya Olivier Giroud karena berdebat setelah kartu merah.

Selama itu pula, Jorginho menunggu dengan sabar dengan bola di tangannya. Ketika ia akhirnya diizinkan melakukan tendangan penalti, pemain internasional Italia itu tetap tenang seperti biasanya, meski pun ada cemoohan dari para penggemar Milan di balik gawang itu dan laser yang menyinari wajahnya terlihat dari ketinggian di tribune. Seperti biasa, sang kapten melompat, menunggu kiper lawan bergerak ke kanan dan ia menggelindingkan bola ke kiri masuk ke gawang.

Jelas bahwa itu kian memanaskan suhu pertandingan karena ada reaksi marah dari Milan terhadap penalti dan kartu merah, dan ada napas lega dari mereka yang mendukung Chelsea ketika Giroud menemukan ruang di sekitar titik penalti untuk mengarahkan sundulan ke gawang, tetapi itu untungnya melebar dari tiang kiri Kepa.

Auba bikin fans bersorak

Makin panas tensinya, dengan wasit memberikan beberapa kartu kuning lagi kepada pemain dari kedua tim di menit-menit berikutnya.

Namun, Aubameyang-lah yang menjaga ketenangannya di bawah tekanan dan mencetak gol kedua Chelsea dan ketiganya dari total tiga penampilan sejauh ini.

Tampaknya gerakan The Blues gagal ketika Chilwell memainkan umpan silang yang tidak sempurna, tapi Aubameyang mengejarnya untuk mempertahankan penguasaan bola. Ia kemudian melepaskan bola ke Kovacic dan mengarahkannya dengan sengaja menuju area penalti. Kovacic meneruskannya ke Mount, yang pada gilirannya memainkannya ke ruang di belakang pertahanan Milan yang dalam. Pada akhirnya Sterling dan Aubameyang sama-sama mengejar bola dan hendak mengeksekusinyaa, namun Auba yang memaksimalkannya dengan penyelesaian akhir cerdas ke tiang dekat.

San Siro terdiam. Ini mungkin hanya sementara sebelum fans tuan rumah berkumpul kembali, tapi itu masih merupakan pencapaian untuk tim mana pun. Sayangnya untuk Rossoneri, para pemain mereka tidak terorganisir lagi begitu cepat, berjuang untuk beradaptasi dengan 10 pemain meski pun ada pergantian tambahan bek dengan mainnya Sergino Dest, dengan banyaknya celah yang kemudian dieksploitasi oleh Kovacic dan Mount.

Dalam situasi seperti itulah Mount nyaris menambah keunggulan kami sesaat sebelum turun minum. Ketika ia menerima umpan dari James, dia menunjukkan kesadaran yang besar untuk menyadari betapa banyak ruang di belakangnya, menghasilkan gerakan mengelabuhi lawannya sebelum mengarahkan tembakan rendah ke tiang dekat, tetapi itu dimentahkan oleh Ciprian Tatarusanu.

Reaksi Mount memperjelas bahwa ia mengira tembakannya akan masuk ke gawang tetapi kekecewaan itu tidak berlangsung lama ketika wasit mengakhiri 45 menit yang hampir sempurna untuk Potter's Blues. Namun, itu menjadi akhir dari malam mengesankan Mount, karena setelah menyebabkan hadiah penalti dan assist untuk gol kedua kami, ia digantikan oleh Conor Gallagher saat turun minum.

Belum berakhir sampai situ

Awal babak kedua yang hidup, karena pertama Kepa harus bereaksi cepat untuk menepis umpan silang berbahaya dari Tonali dengan kakinya, sementara di ujung lain Chalobah menyerang ke depan dan memberikan terobosan kepada Gallagher, yang sempat melewati kiper tapi tendangannya menyamping.

Sesudah itu, kami kembali mengontrol jalannya pertandingan, dan Aubameyang tidak beruntung karena tidak mendapatkan gol keduanya ketika ia mengarahkan tendangan voli jarak jauh Kovacic ke arah gawang, hanya untuk digagalkan oleh penyelamatan apik Tatarusanu.

Namun, tidak ada tanda-tanda Milan menyerah dan mereka menciptakan peluang terbaik mereka untuk kembali ke permainan. Rafael Leao menghasilkan aksi yang rapi di sebelah kiri dan ketika Sandro Tonali gagal melepaskan tembakannya dan bola mengarah ke Dest di tiang jauh. Ia punya waktu untuk melakukan ancang-ancang tapi tendangannya melambung tinggi.

Potter kemudian melakukan beberapa perubahan pemain dan skema. Salah satu perubahan itu dipaksakan, karena James terlihat cedera dan harus keluar untuk digantikan oleh Cesar Azpilicueta. Lalu ada Ruben Loftus-Cheek masuk menggantikan Sterling, menciptakan skema tiga gelandang dengan Kovacic dan Jorginho, sementara Gallagher mendukung Aubameyang.

Jika tujuannya adalah untuk mengamankan keadaan dan mengontrol Milan, itu adalah hasil yang diinginkan. Pemain tambahan di lini tengah memungkinkan kami untuk mempersulit lawan dalam menguasai bola, sambil membuat mereka tertekan hingga sulit mengendalikan permainan.

Sementara kami tampak sangat puas dengan keunggulan dua gol kami dan senang untuk mempertahankannya hingga memasuki fase akhir permainan, tapi tetap ada upaya untuk mencari gol ketiga ketika ada peluang, seperti yang ditunjukkan ketika Loftus-Cheek melaju ke depan dengan bola dan memberikan umpan kepada Aubameyang di dalam kotak, namun Matteo Gabbia mampu memblok upayanya.

Sesudah itu ada aksi lain dari Gallagher yang dua kali digagalkan oleh Tatarusanu dari jarak dekat sebelum bendera hakim garis dikibarkan, itu adalah akhir permainan yang cukup sederhana, saat Milan menunjukkan perjuangan sekuat tenaga untuk menahan dominasi Chelsea, yang pada akhirnya menyudahi malam luar biasa mereka di San Siro.

Chelsea: Kepa; Chalobah, Thiago Silva, Koulibaly; James (Azpilicueta 62), Jorginho (c), Kovacic, Chilwell (Cucurella 89); Mount (Gallagher h-t), Aubameyang (Havertz 79), Sterling (Loftus-Cheek 62)
Cadangan: Bettinelli, Mendy, Chukwuemeka, Zakaria, Pulisic, Broja
Gol: Jorginho pen 21, Aubameyang 34
Kartu kuning: Mount 20, Sterling 29, Gallagher 86

AC Milan: Tatarusanu; Kalulu, Gabbia, Tomori, Hernandez (c) (Ballo-Toure 80); Tonali, Bennacer (Pobega 62); Krunic, Diaz (Dest 37), Leao (Origi 80); Giroud (Rebic 62)
Cadangan: Jungdal, Mirante, Coubis, Messias
Kartu kuning: Giroud 20, Gabbia 31, Krunic 36, Pobega 67, Tonali 89)
Kartu merah:
Tomori 18

Wasit: Daniel Siebert

Statistik AC Milan vs Chelsea