Awal tak terkalahkan Graham Potter di Chelsea berlanjut meski pun derbi London barat ini terbukti menjadi salah satu laga paling sulit di bawah eranya.

Hasil Brentford vs Chelsea

Pertandingan berakhir 0-0 dan Brentford memiliki lebih banyak peluang yang gagal ketimbang tamu lokal mereka dari Stamford Bridge, yang upaya terbaiknya ke arah gawang adalah Kai Havertz di babak kedua yang ditepis dengan cukup nyaman, dan yang lebih sulit di akhir laga lewat aksi Carney Chukwuemeka.

Tuan rumah memang tampil lebih baik di babak pertama meski tak mencetak gol. Sekali lagi, the Blues patut bersyukur atas performa Kepa, dengan kiper Spanyol itu menggagalkan dua sundulan Bees dan beberapa ancaman lain.

Pergantian di babak kedua memang memberi banyak dorongan kepada lini serang Chelsea, dengan pemain muda Chukwuemeka terlihat tajam saat membawa bola, namun tembakan tepat sasaran tetap sulit dilakukan dan sebagai hasilnya, ini adalah untuk pertama kalinya dalam sebuah laga di era Potter kami tidak bisa mencetak gol.

Starting XI

Graham Potter memberikan Armando Broja penampilan pertama sebagai starter bersama the Blues dan itu menjadi sorotan utama sejak awal, tampilnya pemain internasional Albania itu menjadi salah satu dari lima perubahan dari kemenangan di Villa Park pada akhir pekan. Juga masuk ke starting line-up adalah pemain pengganti di akhir pekan Kalidou Koulibaly dan Cesar Azpilicueta, ditambah Jorginho dan Conor Gallagher.

Chelsea datang ke pertandingan ini dengan momentum – lima kemenangan beruntun menjelang partai ini, empat kemenangan terakhir juga dibukukan dengan catatan clean sheet.

Di sisi lain, rekor rival London barat kami campur aduk, namun mereka mengalahkan mantan tim asuhan Graham Potter, Brighton, pekan lalu, dan setelah mengawali laga dengan baik kali ini, mereka tampak lebih berbahata untuk sebagian besar babak pertama.



Potter meminta timnya untuk bermain dengan tiga bek malam ini, dengan Ruben Loftus-Cheek dan Marc Cucurella sebagai bek sayap, dan pertahanan tetap disibukkan oleh The Bees di menit-menit awal. Kepa dipaksa untuk menepis sundulan Ivan Toney – sang kiper yang tengah on-fire menggagalkan striker yang juga on-fire – dan meski pun itu adalah peluang paling berbahaya di babak pertama, itu bukan satu-satunya tekanan pada gawang kami.

Tuan rumah melayangkan komplain dan merasa mendapatkan penalti ketika Bryan Mbeumo dijatuhkan dengan Loftus-Cheek. Tapi VAR setuju dengan keputusan wasit yang mengabaikan momen itu.

Pergantian awal

Ada kesulitan lebih lanjut untuk Chelsea ketika Conor Gallagher dipaksa keluar saat baru bermain 15 menit. Mateo Kovacic masuk menggantikannya.

Cucurella membuat blok penting pada Mbeumo untuk memadamkan serangan Brentford lainnya dan butuh waktu hingga babak pertama selesai untuk mendapatkan momen terobosan nyata pertama Chelsea – Broja sudah berusaha keras menyundul bola tapi umpan silang Azpilicueta terlalu kencang.

Tuan rumah langsung merespons namun tidak bisa memaksimalkan peluang mereka dengan baik ketika Frank Onyeka lolos dari kawalan Koulibaly. Pemain Nigeria itu gagal melanjutkan momentumnya masuk ke kotak penalti karena kesulitan melepaskan umpan.

Kepa kembali menunjukkan aksi topnya ketika bergerak maju dari gawangnya untuk meninju bola sebelum disambut oleh Onyeka di kotak penalti.

Usaha memecah kebuntuan

Chelsea memang menemukan cara untuk mengancam Brentford sebelum turun minum, ketika umpan Kovacic dan kecepatan Broja membuat Ben Mee kalah lari. Namun striker muda kami tidak mengambil kesempatan awal untuk langsung menembak dan ketika ia akhirnya melepaskan bola melintasi gawang, Havertz sudah dalam posisi sulit.

Perlu adanya peningkatan di babak kedua untuk mengulangi dua kemenangan kami pada kunjungan pertama kami ke stadion ini musim lalu.


Tidak seperti di Aston Villa, tidak ada perubahan yang dibuat oleh Potter selepas jeda, namun awal paruh kedua lebih bisa kami kendalikan – setidaknya sampai Brentford gagal memanfaatkan dua peluang sundulan lainnya – yang pertama diarahkan dengan baik ke Kepa oleh Mbeumo yang tanpa pengawalan dan menempatkan bola dengan sangat baik, yang kedua disambut dengan eksekusi melebar oleh Toney.

Waktunya perubahan

Dengan laga memasuki satu jam permainan dan dengan the Blues belum juga menambah jumlah tembakan tepat sasaran sejak babak pertama, tiga pemain baru dimasukkan sekaligus – Christian Pulisic, Carney Chukwuemeka dan Raheem Sterling diberi tugas untuk membuat lebih banyak perbedaan.

Chukwuemeka hampir seketika memulai lari yang kuat dengan bola dari setengah permainan timnya sendiri ke area penalti Bees.

Itu kemudian diikuti oleh kecepatan Havertz yang memiliki momen terbaik ketika ia menggerakkan bola dan melepaskan tembakan dengan cepat dan tepat untuk meneror David Raya di bawah mistar Brentford.

Kemampuan Chukwuemeka untuk menggiring bola dengan cepat kembali menghadirkan ancaman dan bisa menghasilkan sesuatu, namun kemudian pemain pengganti tim tuan rumah Yoane Wissa berbalik mengancam dengan tendangan yang menyamping dari gawang.

Pertandingan lebih terbuka memasuki fase akhir paruh kedua, dan ada aksi Kepa yang memblok tembakan Toney dan memaksa bola melebar, sementara di sisi lain Brentford mengirim lebih banyak pemain untuk bertahan dan membendung laju Chelsea.

Pemain pengganti lainnya, Pierre-Emerick Aubameyang, memaksa Raya melakukan penyelamatan lainnya dengan tembakan dari jarak jauh, begitu pula Pulisic.

Di menit-menit akhir, sebuah bola jatuh ke kaki Chukwuemeka dan ia menerobos masuk ke kotak penalti dan melepaskan tembakan ke tiang dekat yang bisa diselamatkan kiper the Bees. Apabila menjadi gol maka akan sangat disesalkan oleh lawan kami.


Chelsea
(3-4-2-1): Kepa; Azpilicueta (c), Chalobah, Koulibaly; Loftus-Cheek, Gallagher (Kovacic 15), Jorginho, Cucurella (Pulisic 62); Havertz (Aubameyang 80), Mount (Chukwuemeka 62); Broja (Sterling 62).

Cadangan Mendy, Thiago Silva, Zakaria, Ziyech.

Brentford (3-5-2): Raya; Zanka, Mee, Pinnock; Roerslev, Onyeka (Baptiste 60), Janelt (Ghoddos 90+2), Jensen (Dasilva 72), Henry; Toney (c), Mbeumo (Wissa 72).

Cadangan Cox, Ajer, Damsgaard, Canos, Lewis-Potter.

Wasit Jarred Gillett