Liga Champions menghadirkan nama terkenal dari Italia ke Stamford Bridge. Sejarawan klub, Rick Glanvill dan ahli statistik klub, Paul Dutton siap untuk laga versus Rossoneri…

Usaha Chelsea untuk mencapai final Liga Champions keempat berlanjut dengan menjamu kedatangan AC Milan di Stamford Bridge.

Ini adalah bagian pertama dari dua pertandingan Liga Champions yang berpotensi menjadi penentu, lawan juara tujuh kali dan juara bertahan Italia yang harus menatap laga ini tanpa beberapa pemain kunci. Namun, mereka punya beberapa mantan penggawa Blues di antaranya Oli Giroud dan Fikayo Tomori.

Secara kebetulan, Milan juga berada di grup yang sama dengan skuad London barat pada 1999/00. Kedua laga antara dua favorit waktu itu berakhir imbang, meski pun saat itu the Blues finis di puncak Grup H dan Rossoneri di posisi terbawah dan tersingkir dari kompetisi. Tim tersukses Italia di Eropa itu juga pernah mengunjungi Stamford Bridge di Piala Fairs pada 1966, saat itu kalah 2-1.

Kemenangan Milan atas Zagreb bulan lalu adalah yang pertama dalam kompetisi ini di San Siro selama sembilan tahun, dan mereka memuncaki Grup E. Dengan hanya meraih satu poin setelah dua pertandingan, Chelsea masih bisa mengumpulkan 13 poin pada akhir fase grup.

Tim asal London hanya kalah sekali dalam 21 pertandingan grup Liga Champions terakhir kami di Stamford Bridge, menang 13 kali dan tidak terkalahkan dalam sembilan pertandingan. Kami juga menang delapan kali dan seri tiga kali dari 13 pertandingan kandang kami di Eropa melawan tim Italia, dengan agregat 27 gol berbanding 13.

Kabar tim Chelsea

Kiper Edou Mendy, yang belum memulai kampanye Eropa sejauh ini, siap beraksi lagi dan Marc Cucurella dan Carney Chukwuemeka telah sembuh dari penyakit mereka, sementara Kai Havertz dan Jorginho telah pulih dari masalah kecil pada hari Sabtu. N'Golo Kante belum siap.

Graham Potter akan berharap untuk mempersenjatai timnya dengan amunisi yang bisa meredam dan membongkar lawan yang lebih berpengalaman di Eropa. Sang pelatih memilih formasi empat bek untuk kemenangan di Crystal Palace. Karena komposisi pemain sayap Milan yang terbatas namun lini tengah mereka vital, kami mungkin akan melihat pengulangan formasi 4-2-2-2 yang menjadi starter pada hari Sabtu. Itu berubah menjadi 4-3-3 di babak pertama dan berfungsi untuk mengisolasi penyerang Palace, meski pun masuknya Ruben Loftus-Cheek sebagai gelandang bertahan juga menjadi faktor.

Potter mengatakan ia ingin bermain menyerang dari kaki ke kaki malam ini untuk memastikan dukungan penonton melawan tantangan besar dari peraih Scudetto. Ia akan berpikir matang mengenai siapa bek tengah yang akan dimainkan sebagai starter karena Giroud dan Rafael Leao penyerang yang menentukan dengan beragam ancaman.

Beberapa pemain dengan kualitas tinggi belum digunakan oleh sang pelatih baru, namun semangat tim sedang tinggi dengan pemain pengganti menyumbang tiga gol dalam empat pertandingan terakhir, termasuk gol kemenangan dari Havertz dan Conor Gallagher. Yang menggembirakan, pemain no.9 Pierre-Emerick Aubameyang membuka keran gol untuk pertama kalinya di Selhurst Park, dan Raheem Sterling menunjukkan kualitasnya.

Terakhir kali di kompetisi ini, ada beberapa kesalahan yang menyebabkan Salzburg bisa mencuri poin. Betapa berbedanya hasil akhir jika salah satu peluang menit akhir bisa dikonversi the Blues. Seperti hari itu, malam ini bukan laga hidup mati, namun raihan tiga poin akan memberikan dorongan besar menjelang pertemuan kedua di Italia pada Selasa depan.

Milan yang tak komplet tetap berbahaya

Pelatih AC Milan Stefano Pioli memiliki skuad yang kehilangan beberapa pemain untuk kunjungan ke Stamford Bridge. Daftar cedera mereka yang terus bertambah termasuk Theo Hernandez, bek kiri menyerang yang sangat penting untuk kesuksesan Scudetto musim lalu, dan kapten Davide Calabria, full-back pilihan pertama mereka. Sergino Dest bisa menjadi starter di bek kanan dengan Fode Ballo-Toure, pencetak gol kejutan di Empoli, mengambil alih sisi kiri.

Seperti Calabria, Alexis Saelemaekers dan Simon Kjaer cedera pada hari Sabtu. Absennya Kjaer kemungkinan berarti Pierre Kalulu turun ke pertahanan tengah bersama Fikayo Tomori dalam formasi 4-2-3-1 yang biasa mereka mainkan. Kehilangan Saelemaekers tidak mudah untuk diatasi karena pemain sayap kanan yang sama, Junior Messias, juga mengalami masalah fisik dalam latihan sehari sebelumnya. Rade Krunic kemungkinan akan mengisi peran itu.

Penjaga gawang reguler Steve Maignan juga akan melewatkan dua pertemuan lawan Chelsea, akan digantikan oleh pemain Romania yang terdaftar di UEFA, Ciprian Tatarusanu. Pemain berusia 36 tahun itu suka mendominasi kotak penaltinya, tetapi hanya bisa mencatatkan satu clean sheet dalam enam penampilan terakhirnya di semua kompetisi. Maklum, ia tampak tidak meyakinkan dalam pertandingan pertamanya musim ini.

Pioli, seorang pelatih yang memilih untuk tidak melakukan perubahan, masih memiliki banyak kualitas untuk dimanfaatkan, terutama di lini depan dengan Olivier Giroud dan pemain yang penuh trik, Rafael Leao. Mantan pemain Blue yang populer telah membentuk kemitraan yang mengesankan dengan mantan pemain Lille, salah satu penyerang muda paling diburu di Eropa. Ada juga imajinasi kreativitas dalam diri Charles De Ketelaere, yang dikenal oleh mantan klubnya, Bruges sebagai 'Raja Charles'.

Rossoneri bermain dengan karakter menyerang, menggerakan banyak pemain ke depan dan melemahkan lawan dengan energi dan mobilitas mereka sampai mereka kebobolan. Mereka terlatih dengan baik, ulet dan suka mendominasi penguasaan bola, mengendalikan tempo permainan sesuai situasi.

Bek tengah mereka biasanya bermain agresif dengan garis tinggi dan berjauhan dan, seperti yang ditunjukkan Inter dalam kemenangan mereka 3-2 baru-baru ini, Milan bisa dikejutkan dengan serangan balik. Dengan perolehan empat poin mereka sejauh ini, sang pemuncak grup mungkin akan datang tanpa beban dan bakal memaksimalkan laga kedua di kandang mereka pada hari Selasa.

Kami memiliki sejarah

Setiap pertandingan melawan AC Milan langsung mengingatkan pertandingan pertama lawan mereka dalam pertemuan paling perdana di Liga Champions 1999/00. Tapi gara-gara 'gol hantu', kedua tim sebenarnya bisa saling bertemu di final edisi 2005.

Dua pertandingan bersejarah lawan Rossoneri pada 1999, yang dipimpin oleh Maldini dan dengan Ayala, Bierhoff, Costacurta, Shevchenko dan bintang-bintang lainnya untuk dinikmati, merupakan hal yang menyenangkan untuk ditonton. Pertemuan pertama di Stamford Bridge pada bulan September menjadi sorotan, saat tim asuhan Gianluca Vialli, yang dimotori oleh Dennis Wise, menghadapi dan mengungguli tim tamu secara taktis dan teknis. Skornya memang imbang 0-0, tapi performa mampu mengimbangi salah satu klub terkuat Eropa waktu itu terasa luar biasa. Bahkan jauh lebih baik karena terjadi di tanah Italia.