Agustus lalu Fernando Torres mengakhiri karier bermainnya yang telah berjalan selama 18 tahun. Malam di Amsterdam jadi salah satu di antara banyak momen hebat untuk klub dan negaranya. Di laga itu, golnya membantu kami menjuarai Liga Europa untuk kali pertama.

Di musim penuh kedua Torres di Chelsea, musim 2012/13, musim terpanjang dalam sejarah kami dengan 69 pertandingan yang harus dilalui di delapan kompetisi. Perjalanan kami dalam mempertahankan gelar juara Liga Champions berakhir di fase grup, namun karena finis di peringkat tiga, maka kami ditransfer ke Liga Europa setelah Natal. Dalam perjalanannya, kami berhasil melewati hadangan Sparta Prague, Steaua Bucharest, Rubin Kazan, lalu Basel dan akhirnya menginjakkan kaki di final yang digelar di markas Ajax, tempat kami berlaga malam ini.

Torres tampil tajam di fase gugur Liga Europa dengan mencetak lima gol. Dia pun masih ingat benar musim yang penuh pasang-surut itu.

“Pada awalnya sangat sulit karena kami datang dari menjuarai Liga Champions, dan kami punya ekspektasi besar untuk melakukannya lagi, lalu kami tidak bisa melewati fase grup,” kata Torres kepada situs resmi Chelsea saat berkunjung ke Stamford Bridge baru-baru ini.

“Kami mengalami masa yang sulit, tapi kami bisa perbaiki musim itu dan kemudian kami bermain dengan sangat baik mulai pertengahan hingga akhir musim.”

“Kami mengikuti Liga Europa dengan tujuan untuk memenanginya. Terkadang tim yang tidak lolos ke fase gugur Liga Champons merasa Liga Europa tidak begitu penting, tetapi kami tidak seperti itu. Kami mengikuti kompetisi itu dengan target untuk memenanginya.”

“Kami mendapatkan hasil-hasil yang sangat bagus dan kami mencapai final melawan Benfica, yang tampil amat baik sepanjang musim,” sambung Torres.

“Kami layak memenangi laga itu. Benfica bermain dengan baik, terutama di babak pertama. Namun, di babak kedua kami punya kesempatan dan mengendalikan permainan. Kami tidak beruntung dengan penalti itu. Semuanya berharap laga diperpanjang hingga babak tambahan, tapi Ivanovic mencetak gol sundulan yang fantastis itu ke tiang jauh. Gol Ivanovic, yang tampil fantastis di tahun dan kompetisi itu, itu sangat bagus dan sangat layak. Kami tim terbaik di final dan di kompetisi.”

“Saya senang sekali, terutama bagi para penggemar Chelsea. Pada saat itu, kami memegang gelar Liga Champions dan Liga Europa secara bersamaan.”

Sebelum kemasukan gol dari titik penalti setelah lawan mendapat hadiah penalti menyusul pelanggaran Cesar Azpilicueta, sundulan legendaris dari Branislav Ivanovic menjadi gol kemenangan. Torres membuat kami unggul lewat sebuah penyelesaian super setelah laga berjalan satu jam dan menggetarkan Amsterdam Arena.

“Situasi yang aneh!” katanya sambil tertawa.

“Saya masih tidak tahu apakah Juan Mata menyentuh bola atau tidak! Petr Cech melempar bola tinggi-tinggi dengan tangannya, Mata berusaha menggapai bola, dan kemudian saya mendapatkan bola dan melihat tidak ada lagi bek selain Luisao. Ada banyak ruang dan waktu untuk berlari. Itulah kemampuan terbaik saya, situasi alami saya.”

“Ketika saya mendribel melewati Luisao, saya melihat kiper maju dan ada ruang untuk mendribel bola. Saya menunggu satu detik sebelum menembak, karena dia mengikuti (gerakan) saya, lalu saya melihat ada celah kecil. Saya mencoba menempatkan bola ke bagian dalam dan masuk ke sana. Itu gol yang penting pada saat itu karena membuat kami unggul.”

“Reaksi dari para penggemar sangat berarti daripada perasaan saya sendiri,” imbuh Torres tentang selebrasi para penggemar Chelsea yang bersorak-sorai di belakang gawang.

“Terkadang saya merasa para penggemar sudah menantikan gol saya lebih daripada saya sendiri. Saya rasa, setiap kali saya mencetak gol penting, mereka gembira karena saya adalah pencetak golnya, lebih daripada sekadar kami mencetak gol. Saya akan berutang kepada mereka selamanya.”

Baca pendapat Frank Lampard jelang laga malam ini di stadion yang pernah disambanginya