Hakim Ziyech dan perjalanan Piala Dunia 2022 yang luar biasa dari Maroko berakhir di tangan juara bertahan Prancis meskipun terdapat penampilan mengesankan lainnya di semi-final.

Singa Atlas telah mendapatkan wahyu di turnamen ini dengan serangkaian pertandingan luar biasa di Qatar – termasuk kemenangan atas Belgia, Spanyol, dan Portugal – yang membuat mereka menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal.

Impian untuk memperpanjang laju mereka dipadamkan oleh kekalahan 2-0 dari Prancis, tetapi Ziyech dan kompatriotnya memiliki banyak alasan untuk meninggalkan Qatar dengan kepala tegak setelah penampilan kuat lainnya melawan juara 2018, meski kalah lewat ketidak beruntungan dengan kehilangan tiga bek karena cedera.

Ada faktor keberuntungan dalam gol Prancis, dengan keduanya dihasilkan dari tembakan yang diblok dengan baik, yang pertama datang lebih awal untuk Theo Hernandez sebelum Randal Kolo Muani mengakhiri kebangkitan Maroko dengan 10 menit tersisa di babak kedua saat Singa Atlas mendominasi, termasuk sepakan membentur tiang tepat di penghujung babak pertama.

Sementara Prancis melaju ke final, ada potensi sedikit penghiburan bagi tim Afrika, karena Ziyech dan Maroko sekarang akan melawan tim Kroasia yang diperkuat rekannya dari The Blues Mateo Kovacic di perebutan tempat ketiga pada hari Sabtu.

Seperti yang telah terjadi sepanjang turnamen ini, Maroko menikmati dukungan besar di dalam stadion, jauh melebihi kubu Prancis dan menyoraki tim mereka sejak peluit pertama.

Namun, mereka kecewa bahkan sebelum pertandingan dimulai ketika bek tengah Nayef Aguerd, yang diperkirakan akan kembali dari cedera, mundur dari susunan pemain pada menit terakhir. Mitra defensifnya Romain Saiss dianggap cukup fit untuk menjadi starter setelah cedera di perempat final, seperti halnya Ziyech, pemain Chelsea yang menempati posisi biasanya di sayap kanan.

Meskipun awal laga tampak menjanjikan, Maroko juga tidak mendapatkan awal yang mereka inginkan, karena mereka tertinggal hanya dalam lima menit. Pertahanan yang dikawal Jawad El Yamiq, di mana sebelumnya hanya kebobolan sekali di turnamen ini, mampu membuat Antoine Griezmann masuk ke kotak penalti. Ketika bahaya tampak jauh usai dua tembakan yang diblok, tetapi pantulan jatuh sempurna ke arah Theo Hernandez dan tendangan setengah volinya melewati Achraf Dari.

Singa Atlas menunjukkan bahwa mereka tidak akan menyerah setelah kebobolan gol cepat itu, ketika Azzedine Ounahi memaksa penyelamatan dari Hugo Lloris dengan sepakan menukik dari jarak jauh untuk membuat para penggemar Maroko bersemangat lagi, dan mereka masih bertahan lebih menikmati bola daripada lawan mereka.

Ziyech menjadi pemain berikutnya yang mengancam gawang Prancis, saat Boufal mencoba memainkan serangan balik, tetapi dia melakukan percobaan menembak dan tidak dapat menemukan target. Bahaya kembali datang mengancam Maroko ketika mantan striker Chelsea Olivier Giroud berlari melewati Saiss, tetapi tembakannya membentur tiang dekat.

Tidak mengherankan, itu adalah keterlibatan nyata terakhir Saiss di semifinal ini, saat ia dipaksa keluar dan menyerahkan ban kapten kepada Ziyech. Hanya dalam 20 menit pertandingan, Maroko kehilangan kedua bek tengah pilihan pertama mereka karena cedera.

Ziyech menghasilkan salah satu momen Maroko yang paling menjanjikan sejauh ini ketika sebuah pergerakan brilian dari pinggir lapangan membuat Hernandez tertinggal di belakangnya, tetapi Boufal dilanggar saat Ziyech mencoba mengarahkan bola ke ruang kosong di dalam kotak dan wasit membiarkan Prancis yang melakukan pelanggaran dengan frustrasi datang dari pemain Maroko saat mereka meminta penalti.

Ada serangkian ancaman dari serangan balik Prancis, tetapi umpan Ziyech dari tendangan sudut pertama Maroko nyaris menjadi penyama kedudukan. Barisan pertahanan lawan berjuang untuk mengatasi umpan silang dan mengarah ke El Yamiq, dia menghasilkan tendangan salto yang mengesankan dengan sepakannya membentur tiang sebelum pemain Prancis mampu membuangnya.

Meski kehilangan bek ketiga karena cedera saat jeda, Maroko memulai babak kedua dengan mantap. Sebuah permainan brilian antara Ziyech dan Achraf Hakimi di sisi kanan - seperti yang sering kita lihat selama Piala Dunia ini - nyaris mengekspos lawan mereka sebelum beberapa pemain bertahan Prancis mencoba menghindari beberapa bola berbahaya ke dalam kotak.

Kombinasi antara Ziyech, Hakimi dan Ounahi di sisi kanan Maroko terus membuat masalah bagi Prancis dan menciptakan peluang gol penyeimbang yang semakin sulit mereka temukan, tetapi upaya mereka menemui jalan buntu di dalam kotak, di sisi lain kehilangan konsentrasi atau adanya serangan balik Prancis dapat mengakhiri peluang mereka untuk bangkit kembali.

Ada tanda yang jelas dari tekanan yang dirasakan sang juara bertahan ketika dalam 30 menit tersisa, semua 11 pemain Prancis berada dalam jarak 30 yard dari gawang mereka sendiri. Meskipun Prancis kembali mendominasi, terutama dalam serangan balik saat Maroko menyerang atau melalui bola mati karena keinginan Singa Atlas untuk memenangkan bola kembali dengan cepat, permainan semakin terbuka memasuki 15 menit terakhir.

Pemain pengganti Abderrazak Hamdallah bisa saja mencetak gol penyama kedudukan yang sangat diinginkan Maroko pada akhir pergerakan luar biasa melalui jantung pertahanan Prancis, tetapi keragu-raguannya sebelum melepaskan tembakan, membiarkan lawan bangkit dan memblok posisinya.

Sebaliknya, pemain pengganti Prancis, Randal Kolo Muani, yang baru berada di lapangan selama beberapa detik, memberikan momen yang menentukan. Kemampuan Mbappe yang menghadirkan bahaya saat ia masuk ke dalam kotak, dilanjutkan tembakannya terdefleksi ke arah Kolo Muani yang memanfaatkan peluang dari jarak dekat.

Maroko tidak menyerah, seperti ketika Hamdallah melepaskan tembakan jarak dekat di waktu tambahan, tetapi gol tak kunjung datang untuk Ziyech dan Singa Atlas, yang sekarang akan mencoba bangkit untuk perebutan tempat ketiga di hari Sabtu melawan semi-finalis lainnya yang kalah, Kroasia.